111 Tahun Bung Karno, 11 Tahun Provinsi Gorontalo, 1 Indonesia

Doc. Komunitas SNG

Sebuah ide atau gagasan besar terkadang muncul begitu saja dalam situasi yang tidak terduga. Mungkin, hal inilah yang terjadi pada Komunitas KelapaBatu Gorontalo. Komunitas orang muda Gorontalo ini mengawali ide mereka dari kecintaan bersama terhadap sosok mantan Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno. Hanya dengan bermodalkan semangat dari beberapa orang anggota komunitas saja, ide ini pun nekat diwujudkan. Hasilnya, dukungan dari beberapa pihak terkait termasuk Pemerintah Provinsi Gorontalo, berhasil diperoleh.

Menurut Ketua Komunitas KelapaBatu Gorontalo, Rollis R. Helingo, pusat peringatan Hari Bung Karno Provinsi Gorontalo dilaksanakan di Museum Pendaratan Pesawat Ampibi Bung Karno. Lokasi ini terletak di desa Iluta Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo, yang juga merupakan bagian dari wilayah Danau Limboto. Pemilihan lokasi ini tentu cukup beralasan, karena di tempat inilah Bung Karno pertama kali menginjakkan kakinya di Provinsi Gorontalo.

Doc. KelapaBatu

Dari hasil penelitian yang dilakukan Komunitas KepalaBatu diketahui jika Bung Karno datang ke Gorontalo sebanyak dua kali, sebelum dan sesudah kemerdekaan RI. Besar dugaan dari masyarakat setempat, kedatangan Bung Karno yang pertama kalinya bertujuan untuk menyatukan wilayah Nusantara menuju kemerdekaan RI. Sementara kedatangan Bung Karno kedua kali pada tahun 1950-an bertujuan untuk menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dimana Gorontalo pada saat itu masuk dalam wilayah Sulutenggo (Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo).

Peringatan Hari Bung Karno ini pun diperingati melalui kegiatan pameran foto-foto Bung Karno bertemakan 111 Tahun Bung Karno, 11 Tahun Provinsi Gorontalo, 1 Indonesia. Tema yang tanpa disadari memiliki keunikan dari dominannya angka 1 (satu). Tentu saja, para pecinta Bung Karno yang berkunjung ke lokasi pameran, disuguhi dengan berbagai koleksi foto Bung Karno yang berhasil dikumpulkan dari para kolektor lokal Gorontalo.

Doc. KelapaBatu

Selain itu, para pengunjung dapat melihat langsung berbagai koleksi buku tentang Bung Karno, beberapa benda peninggalan Bung Karno saat mendarat di lokasi tersebut dan penayangan prosesi proklamasi melalui televisi hitam putih yang diletakkan di sudut ruangan. Semua koleksi yang ada murni berasal dari masyarakat lokal Gorontalo yang menjadi keturunan dari saksi hidup kedatangan Bung Karno di Gorontalo. Proses untuk mendapatkan semua koleksi diakui Rollis R. Helingo cukup sulit. Komunitas KelapaBatu harus menelusuri jejak perjuangan dari lokasi pendaratan Bung Karno yang terletak di Kabupaten Gorontalo sampai Makam Nani Wartabone yang terletak di Kabupaten Bone Bolango. Mereka melakukan penelitian dari ‘pintu ke pintu’ selama berbulan-bulan untuk menemui kolektor lokal serta berusaha meyakinkan mereka tentang pentingnya kegiatan ini hingga memperoleh izin peminjaman dan pemajangan semua koleksi pada pameran Bung Karno. Hasilnya memang tidak sia-sia karena mereka mampu mendapatkan koleksi yang hampir tidak pernah diketahui oleh masyarakat umum.

Meski sempat mengalami pergeseran penetapan tanggal kegiatan sebanyak 3 (tiga) kali, namun peringatan Hari Bung Karno yang harusnya dilaksanakan pada bulan Juni, akhirnya dilangsungkan pada tanggal 28 Oktober (peringatan Hari Sumpah Pemuda) hingga 10 November 2012 (peringatan Hari Pahlawan). Selama 15 hari lamanya, para pengunjung turut menikmati pemutaran beberapa film perjuangan yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dan sikap menghargai perjuangan para pahlawan yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman. Beberapa kegiatan sosial pun turut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ini, diantaranya yaitu Donor Darah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Doc. KelapaBatu

Rollis R. Helingo mengatakan, hari pertama pelaksanaan acara dibuka dengan kegiatan Sepeda Sehat melalui Jalur Merah Putih. Jalur Merah Putih ini diduga memiliki keterkaitan dengan Hari Proklamasi Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 1945 (17-7-1945), di mana panjang jalan yang dilalui dari lokasi pendaratan hingga makam Nani Wartabone mencapai 17,7 Kilometer. Para peserta Sepeda Sehat pun diajak untuk melalui titik-titik lokasi atau tempat bersejarah pada masa perjuangan melawan Belanda seperti Mesjid Hunto (Mesjid tertua di Gorontalo), Bele Li Mbui (bekas rumah tahanan dan tempat penyiksaan di masa penjajahan Belanda), Monumen Nani Wartabone yang merupakan Pahlawan Perjuangan Gorontalo serta Jalan 23 Januari yang menjadi lokasi penyobekan bendera Belanda yang menandai kemerdekaan daerah Gorontalo di tahun 1942, di mana Gorontalo menjadi daerah pertama di Indonesia yang merdeka. Tidak mengherankan jika proses otonomi daerah bagi Gorontalo untuk berpisah dari Provinsi Sulawesi Utara menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia hampir tidak mengalami hambatan. Kegiatan Sepeda Sehat ini pun diakhiri dengan ziarah bersama di Makam Pahlawan Nani Wartabone.

Rollis R. Helingo pun mengaku cukup bangga meski belum berpuas diri dengan pencapaian terselenggaranya kegiatan pameran Bung Karno ini. Sebab, kegiatan ini merupakan yang pertama di Gorontalo bahkan di Indonesia. Respon positif ditunjukkan dengan banyaknya para pengunjung pameran yang berasal dari luar daerah Gorontalo, tidak terkecuali rombongan Komisi X DPR RI yang ingin melihat secara langsung koleksi-koleksi yang ditampilkan. Salah satu hal yang menarik perhatian para pengunjung dan masyarakat umum adalah pemilihan waktu pelaksanaan kegiatan pameran yang bertepatan dengan ditetapkannya Bung Karno sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Namun, Rollis R. Helingo menepis jika kegiatan ini hanya dilakukan pada saat Bung Karno telah menjadi Pahlawan Nasional. Karena menurutnya, ide pelaksanaan kegiatan telah lama muncul dan baru terealisasi di tahun 2012, di saat Bung Karno secara resmi menjadi Pahlawan Nasional. Bahkan Rollis R. Helingo berharap, kegiatan pameran Bung Karno ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya dan mendapatkan dukungan dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

 

Tim Liputan MJ Education

Jeane Grace

Author: Jeane Grace

Berkarya di dunia radio komersial sejak 2003, Jeane Grace Derdanela saat ini adalah manager program di Kosmonita Radio, Gorontalo.

Share This Post On