Anak Muda Juga Cinta Budaya Lokal: Mengenal Lebih Dalam Eskul Tari Saman SMUN 34

dokumentari Tiara

Tari Saman adalah salah satu tari tradisional Indonesia dari Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gerakannya yang cepat, dinamis, menghentak membuat tari ini menjadi salah satu tarian favorit dan sering ditampilkan di berbagai acara, dari acara sekolah sampai pertukaran budaya. Bahkan hampir di setiap sekolah terdapat eskul tari Saman.

Apa rata-rata alasan banyak anak muda tertarik mengikuti eskul tari Saman? Kepada tim liputan MJ Education, Fiana, siswa kelas XI IPS mengatakan alasan tertarik dengan tari Saman adalah karena ”gerakannya dinamis, ada speednya”, ujar siswi berjilbab yang sudah tertarik dengan dunia tari sejak kecil, bahkan sempat tampil di acara di Honolulu, Amerika Serikat saat mengikuti sang ayah bertugas. Sementara Aulia Ayu yang juga teman sekelas Fiana mengatakan bahwa Saman itu menarik, menantang karena dituntut kerjasama tim dan keselarasan gerak.

Eskul tari Saman di sekolah yang berlokasi di Pondok Labu, Jakarta Selatan ini termasuk eskul yang cukup banyak peminatnya. Menurut pembina eskul tari Saman, Ibu Nyoman Warsi, eskul ini tiap tahun mengalami peningkatan jumlah peminat. “Saat ini jumlah anak yang ikut eskul tari Saman sudah mencapai 50 anak, dan itu suatu kebanggaan bahwa anak-anak sekarang mulai tertarik mempelajari budaya tradisi,”ujar guru Sosiologi tersebut. Menurut Ibu Nyoman, eskul tari Saman berawal dari eskul tari Bali dan beliaulah yang awalnya mengajar, tetapi,”yah karena faktor kesehatan saya jadi saya memutuskan untuk mundur. Nah, mulailah dibuka eskul tari Saman di tahun 2003, karena kami melihat tari Saman sedang ngetop-ngetopnya.” Ada dua guru tari Saman dan latihan tari diadakan tiap hari Sabtu dari pukul 08.00 sampai pukul 12.00 siang.

Bagaimana pencapaian prestasi eskul ini di berbagai kompetisi? Cukup diperhitungkan. Walau belum mencapai juara utama, tetapi setidaknya eskul tari Saman SMUN 34 ini berhasil meraih salah satu gelar di hampir setiap kejuaraan yang diikuti. Seperti Juara 3 di Pekan Pendidikan Tinggi 2011, Juara 3 di Avicenna Cup 2011, Juara Favorit di Sekolah Pembangunan Jaya 2010. Menurut Tiara Maharanie, siswi kelas XII IPS, meraih gelar juara di pekan pendidikan tinggi Kemendiknas adalah hal yang paling berkesan di mana ia ikut mewakili sekolah, karena”gengsinya beda dan persaingannya juga lebih ketat ketimbang event atau kompetisi sekolah lainnya.”

Bagi Fiana, turnamen yang paling berkesan adalah Saman Festival tahun lalu di Senayan. Sekalipun tidak meraih gelar, tetapi menurutnya, ”Suasananya beda banget, serasa kumpul dengan para penari yang sesungguhnya.”

Menurut Pak Wisnu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, pihak sekolah mengizinkan tiap eskul, termasuk Saman, mengikuti kompetisi sebanyak dua kali. Jika lebih dari dua, itu adalah inisiatif dari siswa dan dengan biaya pribadi. Menurut Pak Wisnu yang juga guru olahraga ini: “Rata-rata mindset orangtua mendaftarkan anaknya ke 34 karena faktor akademis. Mereka ingin anak-anak mereka mencapai nilai akademis yang bagus, bisa diterima di perguruan tinggi negeri dan sebagainya. Jadi kita membatasi hanya dua kegiatan yang disupport dengan dana sekolah, karena jangan sampai prestasi akademisnya menurun. Yah, sebenarnya harus imbang lah antara eskul dengan belajar.”

Oleh karena itu, siswa siswi kelas XII tidak diperkenankan aktif di eskul karena memang harus fokus belajar menghadapi Ujian Nasional. Seperti pengakuan Tiara bahwa, ”Aku berharap adik-adik kelasku ini yang bisa berprestasi lebih baik di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Saat ini aku sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan Saman karena sudah menjelang ujian.”
Sudah banyak event atau lomba yang menanti, seperti Al Izhar Olympic, Daha (SMUN 82) Festival, lalu acara di Sekolah Don Bosco, Pondok Indah. SMUN 34 sendiri akan mengadakan 34 Cup sekitar pertengahan tahun 2012 ini di mana akan ada banyak lomba, termasuk tari Saman.

Sebagai penari, adalah kebanggaan jika bisa mewakili negara dan memperkenalkan budaya tradisi ke negara lain. Sempat ada tawaran untuk pertukaran budaya di Turki sekitar bulan Juli-Agustus mendatang. Menariknya,”tidak hanya Saman saja. Misal ada anak dari eskul lain atau non-eskul yang berminat, silahkan daftar. Ada 7 tarian tradisional dan itu terserah peserta, dan peserta akan dilatih selama 3-4 bulan di Jakarta,”ujar Pak Wisnu dan Ibu Enny, guru Geografi yang mengurusi bidang kesiswaan.

Masalahnya? Dana. Pak Wisnu mengatakan bahwa,”Ini sudah dari bulan Desember, ternyata yang daftar baru dua orang.” Sementara Fiana mengatakan “Yang minat banyak, tapi kendalanya dana yang dikeluarkan cukup besar per siswanya.”

Dana 18 juta per siswa memang tidak kecil karena tidak semua siswa berasal dari golongan mampu. Sambil tersenyum Tiara yang berniat melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran Bandung mengatakan bahwa dana sebanyak itu lebih layak untuk biaya kuliah.

Secercah harapan ada saat mendengar ikatan alumni 34 bersama-sama ingin menggalang dana tetapi menurut Bu Enny semua masih belum jelas bagaimana prosedurnya. Karena,”Kalau hanya mengumpulkan dana dan melihat seberapa dapatnya, ya jelas itu agak memberatkan.”

Bagaimana? Ada yang mau menjadi sponsor bagi anak-anak berbakat ini untuk menjadi duta budaya? Semoga.

(tim liputan MJEDUCATION.CO)

Daftar Prestasi Tari Saman SMUN 34 :
2010
Juara Harapan 1 di Al Azhar BSD (2010)
Juara 2 BM 400, BM Cup
Juara Harapan 3 SkyFest, Lab.School, Kebayoran Baru
Juara Harapan 1 Rapa`i Gelang, Sekolah Pembangunan Jaya
Juara Harapan 3 Pekan Pendidikan Kemendiknas
Juara Favorit Pembangunan Jaya
Juara 2 87 Cup

2011:
Juara 3 Saman Competition Pekan Pendidikan Tinggi
Juara 3 Avicenna Cup

Author: jasmeena

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>