Bedah Buku Gramedia: Jalan-Jalan Hemat

Mendengar kata jalan-jalan, sudah tentu tergambar di benak Anda adalah bersenang-senang.  Ya, terlebih lagi bagi yang biasa dengan rutinitas kerja dan aktivitas. Tentu, jalan-jalan, menjadi pilihan untuk sekedar melepas kepenatan ataupun untuk mencari  suasana baru. Lalu, mau jalan-jalan kemana? Bagaimana kalau ke Korea? atau ke Selandia baru? Ehm, bagaimana dengan Eropa?

Wah, kok ke luar negeri, mahal dong? Mana ada dananya?”  Nah, Untuk itu, toko buku Gramedia Matraman, pada tanggal 26 Februari 2012 lalu membedah buku travelling ke negara-negara di atas. Tidak tanggung-tanggung, para penulisnya pun langsung dihadirkan, untuk menceritakan pengalaman-pengalaman mereka di sana. Cayi & Gebo, dengan bukunya “Lost in Korea”, Fitria Syafaat, dengan buku “Wisata Seru ke Selandia Baru”, Yudhinia Venkanteswari, dengan buku “Jalan-Jalan Hemat ke Eropa”.

Banyak pengalaman-pengalaman yang dibagi oleh para pembicara. Salah satunya tentang kendala bahasa. Hal ini harus mendapat perhatian khusus, jika kita ingin jalan-jalan ke luar negeri. “Paling tidak, kita harus menguasai bahasa lokal, minimal seperti, “Apa kabar“, “Selamat pagi” dan sapaan yang lain, “Terima kasih“. Selain itu, dapat mengerti huruf atau atau tulisan dasarnya sangat penting. Karena, walau bahasa Inggris sudah menjadi bahasa internasional, masih banyak yang belum menguasai dengan baik.” Tutur Gebo. Hal ini pun diamini oleh para pembicara yang lain. Namun, ada yang menarik dengan pengalaman Cayi dan Gebo, ketika di Korea. Selain menggunakan bahasa Inggris dan bahasa lokal, tapi ada bahasa ketiga, yang malah sering digunakan, yaitu bahasa tubuh.

Makanan, hal ini pun menjadi penting. Karena apa yang biasa kita makan di Indonesia, belum tentu itu ada di negara yang kita kunjungi. Selain itu, jika kita muslim, maka harus lebih ekstra hati-hati untuk memilih makanan yang halal. Seperti pengalaman Nia, ketika ia ingin mengonsumsi daging, “Kita harus pastikan lebih detail, tidak hanya dari dagingnya, tapi dari proses pengolahannya. Banyak juga daging yang bisa dikonsumsi, namun dalam pengolahan menggunakan minyak babi, oleh karenanya, kita harus lebih proaktif untuk menanyakan makanan yang akan kita makan”.

Sedangkan untuk di Selandia Baru, dari sisi bahasa tidak begitu kesulitan. Karena mayoritas penduduk di Selandia Baru menguasai bahasa Inggris. Untuk makanan pun lebih enak. Karena beras sangat mudah didapat. Selain itu restoran Malaysia dan India pun banyak. “Sehingga untuk mencari makanan yang halal, tidak sulit”, ujar Fitria.

Selain kita harus memperhatikan bahasa lokal dan makanan, ada juga yang harus dipersiapkan tentang perlengkapan jalan-jalan. Jangan sampai, kita pergi dengan membawa semua isi kamar bersama kita. Bawalah barang yang penting saja. Ada beberapa tips yang diberikan oleh para pembicara mengenai barang-barang bawaan. Untuk pakaian, sesuaikan dengan kondisi cuaca di negara tujuan. Jadi, sebelum berangkat, kita harus mencari tahu tentang kondisi cuaca dan musim di negara tujuan. Dengan demikian, kita dapat mempersiapkan jenis dan jumlah pakaian yang perlu dibawa selama berlibur.

Merasa penat dan lelah setelah berjalan-jalan seharian?  Tidak perlu khawatir. Gebo memberi tips untuk mengatasinya, “Untuk membuat kita segar lagi di esok harinya, jangan lupa, ketika menjelang tidur, kita rendam telapak kaki kita dengan air hangat. Paling tidak dipercikkan air hangat, agar pegal-pegal di tubuh, atau di kaki bisa hilang.”

Lalu untuk masalah dana bagaimana? Para pembicara memberikan ilustrasi kasar untuk hal ini. Menurut Cayi dan Gebo, diperlukan dana sekitar Rp. 5 juta untuk perjalanan di Korea selama dua minggu. Sedangkan untuk ke Eropa, Nia memaparkan, membutuhkan dana sekitar Rp.20 juta untuk waktu yang sama, selama dua minggu. “ Ini memang terlihat besar, tapi kalau coba dirinci, tidak juga. Dana Rp.10 juta itu untuk tiket pesawat dan pengurusan visa. Lalu Rp.5 juta untuk biaya tiket terusan kereta api antar negara. Jadi sebenarnya, biaya untuk makan dan menginap juga sama, ya Rp.5 juta juga.” papar Nia. Untuk mendapatkan tiket promo terusan kereta api, kita harus sering-sering hunting ke agen tiket setempat. Karena, untuk di negara-negara Eropa, kerap kali diadakan promo spesial harga tiket terusan kereta api. Sehingga kita berkesempatan lebih besar  untuk mendapatkan tiket murah.  Sedangkan untuk Selandia Baru, perlu sekitar Rp.10 juta  di luar tiket pesawat.

Dana yang digambarkan memang terlihat begitu besar. Tetapi jika dilihat dengan lamanya perjalanan  sekitar dua minggu, itu terhitung lebih hemat, dibandingkan jika kita mengikuti program paket jalan-jalan swasta. Dan jika memang Anda berminat mengunjungi  negara-negara di atas, maka buku-buku ini layak dimiliki sebagai panduan wisata hemat Anda.

 

ekidoang

Author: ekidoang

Tutor di berbagai workshop bidang sains dan juga aktif dalam kegiatan edutainment.

Share This Post On

3 Comments

  1. ‘ada uang ada barang’ kalo mau liat yang lebih bagus yang uang nya juga harus lebih bagus, kurang lebih begitu ya mas broh? :D
    kalo aku lagi pengen banget ke korea nih ketemu artis2 korea disana . hahaha

    Post a Reply
    • Sepertinya Nila suka travelling ya… ^_^

      Post a Reply
    • salam kenal ya…

      semoga apa yang di inginkan menjadi kenyataan..
      jangan lupa di share ya… (oleh2-nya, he he)

      Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>