Berani Berkata “Tidak”, Latih Anak Bersikap Asertif

freedigitalphoto.com

Lantaran menerima uang sebesar Rp. 10 juta, seorang mahasiswi sempat ditangkap pihak KPK karena diduga terlibat dugaan kasus suap yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Dia mengaku menerima uang tersebut sebagai hadiah perkenalan karena merasa tidak enak dengan sang pemberi dan takut dibilang sombong. Meskipun pada akhirnya mahasiswi tersebut dibebaskan karena terbukti tidak terlibat dalam kasus tersebut, namun namanya sempat mencuat dan dicap sebagai “perempuan nakal” karena bersedia menerima uang dan mau diajak ke hotel oleh lelaki yang baru dikenalnya. Akibat pemberitaan tersebut, keluarga mahasiswi itu sempat merasa shock dan ibunya pingsan. Belum lagi jika mendengar komentar-komentar miring dari tetangga dan orang-orang sekitar. Seorang gadis mau menerima uang sebesar itu dan bersedia pula diajak ke hotel berdua dengan lelaki yang baru dikenalnya. Kata “hotel” memang kerap mendapat asumsi negatif, apalagi bila menyangkut hubungan antara lawan jenis. Walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa, mereka hanya sekadar ngobrol atau makan bersama.

Apabila kita melihat ke belakang dan berandai-andai, bagaimana jika pada saat lelaki itu memberinya uang dia berani berkata “tidak”? Apa yang akan terjadi? Apakah dia akan menjadi topik perbincangan di masyarakat? Apakah namanya akan dianggap sebagai perempuan yang tidak senonoh?

Tentu saja tidak. Malahan bisa jadi keluarganya akan merasa bangga karena putrinya berani menolak menerima uang yang tidak jelas asal-usulnya dari lelaki yang baru dikenalnya. Tidak akan pernah ada pemberitaan negatif tentangnya, yang ada hanyalah pemberitaan positif tentang seorang gadis yang berani menolak uang sepuluh juta Rupiah yang diberikan padanya. Bisa jadi pula, namanya tidak pernah mencuat akibat tersangkut kasus suap.

Memang, untuk mengatakan satu kata ini, dibutuhkan keberanian dan iman yang teguh apalagi jika menyangkut hal-hal yang menyilaukan mata seperti tawaran uang dan kedudukan. Karena susahnya menolak tawaran tersebut, korupsi pun kerap terjadi.

Mengapa orang susah berkata “tidak” untuk korupsi dan menerima suap? Dari sisi psikologi, Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya :

1. Adanya peluang atau kesempatan

Pada dasarnya semua orang mempunyai peluang atau kesempatan untuk melakukan korupsi, entah itu korupsi kecil-kecilan atau besar-besaran. Hanya saja, apakah peluang atau kesempatan korupsi itu benar-benar digunakan atau tidak. Jika digunakan, maka terjadilah korupsi. Jika tidak, kesempatan korupsi itu hanya tinggal kesempatan saja, korupsi tidak benar-benar terjadi.

2. Pengaruh lingkungan

Jika seseorang mempunyai peluang atau kesempatan korupsi dan didukung oleh lingkungan yang berisi para koruptor, tentu lama-kelamaan akan terpengaruh juga untuk melakukan korupsi.

3. Keinginan dan kebutuhan

Manusia memang lahir dengan berbagai keinginan dan kebutuhan, antara lain keinginan untuk dihormati, keinginan untuk memiliki kedudukan tinggi dan uang yang banyak, keinginan untuk memiliki barang-barang mewah dan lain-lain. Karena berbagai keinginan itu muncullah motivasi untuk memperolehnya. Bagi orang yang berpikiran pendek dan serba instan, lebih baik mengambil jalan pintas untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan itu, apapun caranya, tidak peduli itu melanggar hukum atau tidak.

4. Persepsi yang keliru

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa uang adalah segalanya dan orang kaya adalah orang yang sukses. Karena anggapan itulah makanya mereka berusaha untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, entah uang itu halal atau haram.

5. Pengendalian emosi dan rasio

Sebenarnya dari beberapa faktor di atas, faktor terakhir inilah yang paling penting. Jika manusia dihadapkan pada peluang, keinginan dan lingkungan yang mendukung untuk melakukan korupsi, serta didukung pengendalian emosi dan rasio yang negatif, maka korupsi itu benar-benar akan terjadi. Namun jika di dalam diri kita mampu mengendalikan emosi dan rasio secara positif seperti perasaan takut melakukan dosa, ingat akan masa depan dan kehormatan keluarga, maka rasio dan emosi positif itu secara otomatis akan menutup keinginan untuk melakukan korupsi.

Keberanian untuk berkata “tidak” ternyata tidak hanya menyangkut masalah korupsi saja. Dalam kehidupan sehari-hari sering pula kita jumpai orang yang rela “bersusah payah” karena sulitnya menolak tawaran orang lain dan susahnya mengungkapkan pendapat.

Sebut saja namanya ibu A. Setiap kali ada sales yang datang ke rumahnya dan melakukan demonstrasi barang yang dibawanya, setiap kali itu pula ibu A membelinya, meskipun harus menyicil setiap bulannya. Bukan semata karena ibu A tertarik akan barang yang ditawarkan, tapi lebih karena didominasi perasaan tidak enak menolak tawaran dari sales yang datang. Apalagi mengingat sales itu sudah bersusah payah, berpeluh keringat membawa barang-barang itu ke sana kemari.

Di sisi lain, sebut saja remaja B yang sangat pemalu dan pendiam. Dia selalu mengiyakan setiap perkataan dan ajakan teman-temannya. Sesibuk apapun dia, jika ada temannya yang meminta tolong padanya, dia pasti mengiyakan. Alhasil, remaja B sendiri jadi kewalahan dan tugasnya tebengkalai.

Dari dua contoh kejadian di atas, bukankah semua akan terasa lebih ringan dan lebih mudah jika ibu A dan remaja B berani untuk menolak dan berkata “tidak”? Lagi-lagi, teorinya memang gampang, tapi bagi sebagian orang, susah sekali untuk melakukannya.

Keberanian untuk berkata “tidak” merupakan salah satu bentuk sikap asertif. Asertif sendiri dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengungkapkan pikiran atau pendapat, baik itu positif maupun negatif, tanpa merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Sikap asertif berada diantara sikap pasif dan agresif. Sikap pasif ditunjukkan dengan selalu mengalah, mengiyakan semua perkataan orang tanpa perlawanan, tidak enakan dan cari aman. Sedangkan sikap agresif adalah sikap yang berani mengungkapkan pendapat dan pikiran, tapi tanpa memikirkan kepentingan orang lain, yang penting diri pribadi puas.

Sikap asertif perlu sekali dikembangkan sejak dini. Apalagi di zaman yang serba bebas ini, jika anak tidak dibekali sikap asertif, takutnya dia malah akan mengekor perbuatan yang salah. Temannya mengajak membolos, iya. Temannya mengajak menyontek, iya. Temannya menyuruh berbohong, iya. Pada akhirnya anak akan menjadi orang yang tidak berpendirian, dan akibatnya akan selalu dimanfaatkan orang lain. Jika ini terus berlanjut, yang paling ditakutkan nantinya ketika dewasa, teman-temannya mengajak korupsi, ia pun dengan mudahnya akan mengiyakan. Inilah yang perlu dihindari.

Bagaimana jika anak terlanjur pemalu dan susah mengungkapkan pendapatnya? Berikut ada beberapa cara melatih anak untuk bersikap asertif :

1. Pola asuh dan komunikasi yang hangat

Di masyarakat kita berkembang anggapan jika orang yang lebih muda tidak menurut perkataan orang yang lebih tua berarti dia (orang yang lebih muda tersebut) “kurang ajar”, “tidak punya etika”, “membangkang”, “berani sama orang tua”. Padahal belum tentu juga apa yang dikatakan orang yang lebih tua itu selalu benar. Pola asuh yang dominan dan terkesan otoriter ini berpotensi menumbuhkan sikap pasif, mungkin juga menumbuhkan sikap agresif pada anak. Pasif karena anak tidak berani mengungkapkan pendapatnya yang bertentangan dengan orang tua, sehingga anak menjadi penakut dan mengiyakan semua perkataan orang tua, tanpa tahu itu benar atau salah. Agresif bisa juga terjadi jika di rumah ia mengikuti kata orang tua tapi memberontak ketika dia berada di lingkungan luar rumah.

Pola asuh dan komunikasi yang hangat sangat diperlukan agar anak mau bersikap asertif. Latih anak untuk belajar mengungkapkan pendapatnya, mulai dari apa yang dia suka atau tidak suka dengan disertai alasan yang jelas dan masuk akal. Jika anak mulai mengungkapkan pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapat orang tua, jangan serta-merta dipotong, dibentak ataupun dicap “melawan”. Dengarkan sampai si anak selesai, barulah kita arahkan dengan mengutamakan dialog. Karena bisa jadi apa yang dikatakan anak ada benarnya, jika salah barulah kita luruskan. Namun bagi si anak pasif, sulit sekali untuk langsung mau mengeluarkan pendapatnya meskipun orang tua memintanya. Lakukan pelan-pelan, jangan tergesa-gesa memaksa anak untuk tidak bersikap pasif, karena butuh waktu dan proses untuk mengubah suatu kebiasaan.

2. Ajarkan pada saat yang tepat dengan cara yang tepat

Kapankah saat yang tepat untuk mengeluarkan pendapat? Yaitu saat orang lain selesai mengemukakan pendapat. Ajarkan anak untuk menghargai pendapat orang lain dengan menjadi pendengar yang baik saat orang lain sedang mengeluarkan pendapatnya. Jika orang lain sudah selesai mengeluarkan pendapatnya, dan ternyata berbeda dengan pendapat pribadi, katakanlah tapi dengan sikap tegas, sopan dan tetap menghargai (pendapat orang lain tersebut). Dengan begitu orang lain yang berbeda pendapat dengan kita tadi tidak merasa tersinggung dan sakit hati.

Selain itu, ajarkan pula kapan saat yang tepat untuk berkata “tidak” dan kapan saat yang tepat untuk berkata “iya”. Jangan sampai ketika ada orang lain yang benar-benar murni membutuhkan pertolongan (dalam hal baik tentunya), kita berkata “tidak”. Bisa-bisa kita dicap sebagai orang yang egois, tidak mau membantu teman yang kesusahan.

3. Pupuk rasa percaya diri

Hindari memberikan ancaman dan hukuman yang tidak perlu kepada anak, karena hal ini dapat membuat anak kehilangan rasa percaya diri. Padahal rasa percaya diri penting agar pendapat kita didengar dan diperhatikan. Tanpa rasa percaya diri yang baik mustahil orang menerima atau setidaknya mendengarkan pendapat kita, lha ngomongnya aja sambil ragu-ragu mana bisa dipercaya, betul tidak?

4. Beri kesempatan bersosialisasi

Berikan anak kesempatan untuk bersosialisasi agar pergaulannya lebih luas. Dengan pergaulan yang lebih luas, memberikan kesempatan pada anak untuk bertemu banyak orang dan berbagai macam karakter. Dari sini anak akan belajar tentang bagaimana karakter orang dan bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dengannya. Dengan begitu, kemampuan komunikasi anak pun akan berkembang.

Sikap asertif dapat menjadi “tameng” awal agar anak-anak tidak terjerumus hal-hal yang tidak baik. Selain itu, bekal pemahaman agama yang baik juga sangat diperlukan, karena hal ini nantinya akan menjadi modal dasar anak untuk menjalani kehidupannya. Jika pondasi agama yang dimiliki anak kokoh, sekalipun ada peluang atau kesempatan maka perbuatan yang melanggar peraturan bisa dihindari.

Author: Rika Setiana

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>