Berwisata ke Kota Sejuta Bunga – Bagian 2

sxc.hu

Apa yang menarik dari kota Magelang? Kota yang secara luas wilayah bisa disebut mungil ini ternyata memiliki banyak sekali potensi wisata yang mengagumkan. Apalagi sejak tahun 2011, kota yang terletak di lereng bukit Tidar ini kemudian mengubah semboyan kotanya, dari ‘Magelang, Kota Harapan’ menjadi ‘Magelang, Kota Sejuta Bunga’.

Penggantian semboyan Magelang menjadi ‘Kota Sejuta Bunga’ memang cukup cerdas. Selain lebih menarik, hal itu juga memberikan semangat tersendiri bagi pemerintah kota Magelang maupun seluruh warga kota untuk bahu-membahu guna merealisasikan semboyan tersebut. Berbagai infrastruktur penunjang pun dibangun. Bukan hanya itu, hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, berbagai sarana dan ruang publik disulap menjadi jauh lebih indah dan menarik dibanding sebelumnya.

Lantas seperti apa wajah kota Magelang sekarang? Apakah kota yang juga sering disebut sebagai Kota Angkatan Darat ini benar-benar siap menyambut para wisatawan serta pelancong yang ingin berlibur ke sana? Lalu tempat-tempat mana saja yang menjadi andalan wisata bagi kota berhawa sejuk ini?

Bukan sekedar alun-alun

Seperti sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kota-kota di Indonesia untuk memiliki setidaknya satu alun-alun atau taman kota. Pada zaman kesultanan Mataram, alun-alun digunakan oleh para Raja atau pejabat kerajaan untuk menyampaikan pengumuman dan bertemu dengan warganya. Sedang di era revolusi kemerdekaan, alun-alun sering menjadi tempat favorit bagi para pemimpin pejuang untuk menggelorakan semangat bertempur dan unjuk kekuatan kepada pihak penjajah.

Magelang pun memiliki sebuah alun-alun di tengah-tengah wilayahnya. Yang menarik, alun-alun tersebut terus dipercantik untuk menunjang semboyan Kota Sejuta Bunga. Bahkan bisa diakatakan, alun-alun Magelang adalah salah satu ikon bagi kota Magelang.

Selain ditanami oleh berbagai macam bunga yang cantik dan indah, alun-alun Magelang juga memiliki rerumput yang hijau dan senantiasa terlihat segar. Ini tak lain karena ketelatenan dalam hal perawatan dan pemeliharaan tanaman-tanaman penghias di alun-alun tersebut.. Hampir setiap pagi, rumput di alun-alun Magelang mendapat siraman air dari para petugas dinas pertamanan dan kebersihan.

Di tengah-tengah alun-alun, berdiri sebuah pohon beringin besar dengan cabang dan akar gantung yang rindang. Di sekeliling pohon tersebut, dibangun tempat duduk bagi warga yang ingin menikmati belaian angin dan asrinya bunga-bunga cantik yang tertanam di sana. Di siang dan sore hari, banyak terlihat warga yang melepas lelah atau para remaja yang hangout sembari duduk-duduk sambil menikmati pemandangan di sana.

Sedang di sebelah utara dari pohon beringin tersebut, berdiri sebuah bangunan yang tak lain adalah tandon air yang dipergunakan untuk persediaan air bagi warga seluruh kota Magelang. Tandon air yang terbuat dari tembok beton dengan ukuran raksasa tersebut adalah buah karya seorang arsitek Belanda. Bentuknya lebih mirip kompor minyak tanah.

Di alun-alun ini juga terdapat sebuah patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggangi kuda putih kesayangan beliau. Di tembok patung tersebut terpahat relief yang menggambarkan aksi kepahlawanan sang pangeran.  Patung yang juga merupakan ikon kota Magelang tersebut kini dikelilingi pagar setinggi sekitar setengah meter, agar lolos dari tangan-tangan jahil yang ingin merusak.

Untuk membuat alun-alun warga Magelang ini makin lengkap, pemerintah juga membangun sebuah videotron atau layar video berukuran raksasa. Di layar ini pula, beberapa kali disiarkan pertandingan sepak bola yang dilakoni oleh Tim Nasional Indonesia. Pada bulan Bung Karno yang kini diperingati setiap bulan Juni, videotron kebanggan warga Magelang ini juga menayangkan beberapa pidato terkenal Bung Karno.

Sedang di sisi bagian utara, pemerintah kota membangun sebuah fasilitas berupa barisan tenda indah berwarna oranye, yang dipergunakan para pedagang untuk menjajakan berbagai kuliner lezat penggugah selera. Hawa kota Magelang yang sejuk, ditambah bunga-bunga yang cantik semarak, membuat banyak pengunjung betah berlama-lama menikmati hidangan di sana. Pemerintah kota juga telah menertibkan area parkir, sehingga mata tak akan terganggu oleh kendaraan-kendaraan yang saling berdesakan seperti pada tempat-tempat umum lainnya.

Di sisi utara alun-alun tepatnya di seberang  jalan,  berdiri sebuah pasar swalayan yang sudah cukup terkenal bernama Trio Plaza. Pusat perbelanjaan tersebut tak pernah sepi dari para pengunjung, terutama di akhir pekan atau hari libur. Sedang masih di sisi utara, di seberang jalan dari alun-alun, tepatnya di sebelah Trio Plaza, berdiri sebuah gereja dengan arsitektur khas Belanda.  Bangunan gereja yang masih indah dan terawat tersebut sering dijadikan subjek  kegiatan fotografi, termasuk lokasi untuk pemotretan foto  pre-wedding.

Beralih ke sisi timur, alun-laun berhadapan dengan sebuah masjid agung kota Magelang atau yang biasa disebut masjid Kauman. Di masjid tersebut sering sekali diadakan berbagai acara, terutama yang berkaitan dengan peringatan hari-hari besar umat muslim. Di sebelah masjid tersebut, terdapat sebuah kafe dengan konsep outdoor bernama Java kicthen. Kafe dengan menu andalan masakan tradisional khas Jawa ini biasanya mulai terlihat ramai ketika menjelang pukul delapan malam.

Jika di sisi utara dan timur, alun-alun kota Magelang berhadapan dengan Gereja dan Masjid, maka di sisi selatan, alun-alun ‘dijaga’ oleh sebuah kelenteng megah dengan nuansa khas arsitektur Cina. Kelenteng yang bernama lengkap Tempat Ibadah Tri Dharma Liong Hok Bio ini adalah salah satu bukti akulturasi dan keterbukaan masyarakat Magelang dalam menerima berbagai unsur budaya. Ketiga tempat ibadah yang mengelilingi alun-alun tersebut juga adalah bukti nyata bagaimana keberagaman dan kebhinekaan benar-benar terjaga.

Di kota Magelang sendiri memang memiliki populasi penduduk keturunan Tionghoa yang cukup banyak. Ketika peringatan Imlek atau hari-hari besar Kong Hu Chu lainnya, kelenteng tersebut selalu mengadakan berbagai acara yang juga turut menghibur seluruh warga Magelang. Salah satunya adalah atraksi barongsai dan liong yang diadakan pada peringatan Imlek beberapa waktu yang lalu.

Di sebelah selatan ini juga terdapat sebuah tugu penerangan yang dibangun pada masa kekuasan kolonial Belanda. Tugu berbentuk mirip mercusuar dengan lampu di atasnya tersebut adalah satu bangunan bersejarah yang masih terus lestari.

Sedang di sebelah barat, alun-alun kota Magelang berhadapan dengan dua mall besar sekaligus, Matahari dan Gardena. Dahulu, di antara kedua mall tersebut berdiri sebuah gedung bioskop yang cukup legendaris bernama Magelang Theatre. Gedung megah dengan area parkir yang sangat luas tersebut dulu selalu menjadi tempat mangkal favorit bagi muda-mudi Kota Magelang. Banyak pula yang bertemu dengan pasangan hidupnya atau teman-teman baru di sana. Terutama ketika hari minggu, gedung bioskop tersebut selalu memiliki antrean yang mengular hingga keluar pintu gerbang.

Bagi generasi terdahulu, gedung Magelang Theatre adalah sebuah kenangan yang tidak bisa lekang begitu saja. Sayangnya seiring dengan berkembangya teknologi multimedia seperti komputer dan VCD, Magelang Theatre pun terpaksa harus gulung tikar. Bioskop berusia puluhan tahun itu pun akhirnya gulung tikar pada pertengahan tahun ini. Kebangkrutan Magelang theatre tersebut menyusul dua saudara seperjuangannya yang sudah mangkat terlebih dahulu, yaitu Kresna Theatre dan Bayeman Theatre. Kini rencananya, pemerintah kota akan membangun sebuah hotel di bekas gedung yang beberapa bagian atapnya sudah mulai terkelupas dan dalam keadaan yang memperihatinkan tersebut.

Jalan-jalan di Pecinan

Jika Kota Yogyakarya memiliki Malioboro, maka Kota Magelang memiliki Pecinan. Pecinan atau China Town, adalah sebuah sentra ekonomi di Kota Magelang yang didominasi oleh pengusaha berlatar belakang keturunan Tionghoa. Di Magelang, Pecinan sudah sangat terkenal. Bentuknya adalah mirip Malioboro, yakni dua buah lajur atau jalan setapak dengan panjang hampir satu kilometer dan dibelah oleh sebuah jalan raya untuk kendaraan bermotor di tengahnya.

Di Pecinan ini, berdiri puluhan toko di setiap sisinya. Ada pepatah lokal yang mengatakan benda apapun bisa didapatkan di Pecinan. Mulai dari benih biji sesawi sampai sepeda motor. Mulai dari baju hingga alat tulis. Kebijakan pemerintah kota Magelang untuk melakukan keramikisasi (mengkeramik) lantai pada lajur di Pecinan membuat suasana di sana semakin indah. Berbagai pedagang kaki lima dan pedagang asongan pun bertaruh nasib saling menjajakan barang dagangannya di sana. Sayangnya, terkadang saking banyaknya kendaraan bermotor yang parkir, membuat lalu lintas sedikit terganggu. Juga ketika turun hujan, sering kanal atau saluran air bawah tanah yang ada di sana kewalahan menampung air hujan, yang menyebabkan jalanan menjadi sedikit tergenang di sana sini.

Di setiap pojok Pecinan dan di sepanjang jalur pejalan kaki, pemerintah juga membangun ratusan tempat sampah dan tentu saja, pot bunga. Ketika bunga-bunga tersebut bermekaran secara bersamaan, maka berjalan-jalan di Pecinan akan memberikan sensasi tersendiri.

Beberapa tempat yang biasa dijadikan hangout di sini adalah kedai Coffe Bruns, pasar swalayan National Depstore dan toko buku jaya. Ketika menjelang hari raya, jalannan di Pecinan akan terasa penuh sesak oleh para  warga yang menyemut untuk berbelanja di sana.

Banyak pula wisatawan asing mancanegara yang menyempatkan berwisata dan berkunjung ke Pecinan. Mereka kagum dengan keramahan penduduk serta keindahan dan kenyamanan yang ada di sana. Dibanding dengan Malioboro, Pecinan Magelang memang kalah raksasa, tetapi Pecinan Magelang jauh lebih bersih, nyaman dan tertata.

 

Author: Adi Guritno

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>