Buku Pedoman Pelafalan Seriosa Pertama di Indonesia

foto antarafoto.com

Pada Jumat, 25 November 2011 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki. Telah diadakan acara peluncuran Buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia. Buku Tersebut merupakan usaha baru dalam memajukan dunia permusikan dan bahasa Indonesia. Hadirnya buku “pedoman pelafalan” dirasakan penting karena akan membantu memudahkan proses menyanyi, baik sebagai bagian dari pendidikan maupun sebagai profesi.

Meski berbagai jenis aliran musik tumbuh subur di Indonesia sejak awal  abad ke-20, hingga hari ini Indonesia belum memiliki pedoman pelafalan untuk para penyanyi. Lebih-lebih untuk penyanyi seriosa, satu jenis aliran musik yang mulai berkembang sejak zaman Kemerdekaan. Rata-rata pelafalan kata bahasa Indonesia disepakati secara berkelompok, terutama yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah musik yang membuka kelas vokal, atau kelompok-kelompok paduan suara. Selebihnya para penyanyi kita melafalkan kata berdasarkan kebiasaan atau meniru para pendahulu atau generasi sezaman mereka. Karena risiko mewariskan kesalahan, disamping  kebenaran pelafalan, menjadi sangat besar.

Hadirnya buku “pedoman pelafalan” dirasakan penting karena akan membantu memudahkan proses menyanyi, baik sebagai bagian dari pendidikan maupun sebagai profesi. Menyadari hal itu, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 11—12 Desember 2110 di Lembang, Jawa Barat, merancang sebuah workshop  “panduan fonetik untuk penyanyi seriosa”. DJK mengundang sejumlah narasumber: Aning Katamsi (soprano), Maria Oentoe Tinangon (penyulih suara), Nano Riantiarno (aktor dan sutradara), Remy Sylado (sastrawan), Yanwardi Natadipura (linguis), Binu D Sukaman (soprano), Zen Hae (penyair), dan Joseph Kristanto Pantioso (bariton). Mereka diminta memikirkan sejumlah soal yang berhubungan dengan pelafalan kata bahasa Indonesia dalam sejumlah lagu seriosa berdasarkan kapasitas mereka masing-masing. Hasil workshop itu kemudian ditulis ulang oleh Aning Katamsi dan Zen Hae dan diterbitkan menjadi buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia (KPG dan DKJ, 2011).

Dengan menciptakan pelafalan yang tepat Dewan Kesenian Jakarta bertujuan menjunjung tinggi setiap karya komponis yang karyanya dinyanyikan. Sebab hanya dengan pengucapan yang tepat dan cara menyanyi yang benar, sebuah karya musik/lagu bisa hadir secara wajar dan utuh. Dan yang juga tak kurang pentingnya, lewat pedoman ini kami berharap bahasa Indonesia bisa mencapai taraf artistik yang lebih tinggi. Tentu saja pedoman yang disusun masih jauh dari sempurna, baik dalam cakupan maupun standardisasi yang tentu saja membutuhkan penyempurnaan di masa mendatang. Setidaknya pedoman ini bisa menjadi langkah awalan penyusunan pelafalan yang lebih baku.

Berisi pedoman pelafalan kata-kata dalam bahasa Indonesia, terutama yang kerap dinyanyikan dan dianggap bermasalah dalam pernyanyian seriosa Indonesia. Ia menggabungkan antara kepentingan teoretis fonetik bahasa Indonesia dan kepentingan praktis penyanyi seriosa. Antara kesalahpahaman yang sudah umum dan mentradisi dengan kepentingan menemukan penyanyian seriosa yang bukan hanya indah dan enak di telinga, tetapi juga baik dari segi bahasa Indonesia.

Sebagai sebuah pedoman, buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia memberikan tuntunan praktis—tanpa harus kehilangan landasan teoretis—pelafalan vokal, konsonan, dan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Di samping memuat paparan ringkas tentang sejarah musik seriosa Indonesia, buku ini juga dilengkapi dengan CD berisi petikan lagu-lagu seriosa yang menjadi contoh pembahasan. Membaca buku ini kita akan paham seraya ingin mencoba melafalkan secara baik kata-kata bahasa Indonesia dalam lirik seriosa Indonesia.

Eko

Author: Eko

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>