COMFEST Universitas Al Azhar Jakarta: Ajang Pembuktian Insan Perfilman Kampus

freedigitalphotos.net
Kamis 19 April 2012, suasana auditorium Arifin Panigoro di lantai tiga Universitas Al Azhar, Jl.Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan lebih ramai dari biasanya. “Hari ini akan ada workshop perfilman bersama sutradara kenamaan Joko Anwar, produser Sheila Timothy, publicist Tia Hasibuan dan still photographer Eriek Juragan,” ujar Iyus, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi yang juga menjadi panitia pelaksana acara.

Workshop diawali dengan pemutaran thriller film karya Joko Anwar yang berjudul Modus Anomali, yang akan ditayangkan secara serentak di bioskop seluruh Indonesia tanggal 26 April. Film yang dibintangi Rio Dewanto menceritakan tentang seorang laki-laki yang harus menyelamatkan keluarganya yang hilang saat berlibur di kabin hutan. Ia harus berpacu dengan waktu untuk bisa menemukan keluarganya kembali.

Sebelum workshop dimulai, Sheila  sempat bercerita tentang film yang sudah meraih penghargaan internasional tersebut . “Film ini memenangkan penghargaan Buncheon Award di ajang Network of Asian Fantastic Film (NAFF) yang merupakan bagian dari Puchon International Fantastic Film Festival di Korea Selatan. Modus Anomali ini berhasil menyisihkan 23 hasil seleksi dari sekitar 100 proyek dari berbagai negara dan sudah ditayangkan di ajang The South by Southwest Film Festival di Amerika Serikat 9-17 Maret. The South by Southwest adalah festival film independen terbesar, setelah Sundance,” ujar perempuan yang biasa disapa Lala dan disambut oleh tepukan meriah peserta. Sementara Joko bercerita bahwa film ini cuma membutuhkan waktu sepuluh hari, tetapi: “Proses pra-produksinya yang lama, sekitar delapan bulan,”ujar Joko yang menyutradarai beberapa film seperti Janji Joni dan Pintu Terlarang.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, terlihat banyaknya mahasiswa yang ingin bertanya tentang seluk beluk pembuatan film. Mereka antusias bertanya dari bagaimana cara menguatkan karakter dalam film, fungsi seorang produser hingga proses pembuatan film Modus Anomali sendiri. Peserta workshop tidak hanya mahasiswa dan pelajar dari kampus dan sekolah di Jabodetabek, tetapi ada juga yang datang dari Bandung.

“Agar dapat menciptakan karakter kuat dalam film, observasi diperlukan. Tidak terpaku dengan profesi dia di dalam film tersebut, tetapi gunakan sudut pandang lain, dia sebagai sosok suami, istri, ibu, ayah,” terang Joko saat ditanyai mengenai penciptaan karakter yang baik.

Lala juga menjelaskan tugas seorang produser kepada para peserta. Menurut Lala, produser di Indonesia melakukan tugas rangkap, yaitu bertanggung jawab atas distribusi dan pemasaran film. Ia juga menerangkan bahwa produser dan sutradara harus bisa bekerja sama dengan baik agar dapat menjadikan film itu berkualitas. Para pelaku perfilman tersebut juga mengingatkan bahwa film adalah film, tidak peduli apakah itu membutuhkan biaya trilyunan seperti di Hollywood, atau hanya 5 juta atau memang tidak ada dana, film harus dikerjakan secara serius. Acara kemudian ditutup dengan membagikan goody bag berisi DVD Modus Anomali untuk 10 orang penanya pertama di workshop tersebut.

Dari Rahasia Kara Hingga Arti

Seusai acara, tim liputan MJEDUCATION.CO sempat melempar beberapa pertanyaan kepada Iyus,  selaku panitia acara ini. “Ajang ini baru pertama kali diadakan dan rencananya akan menjadi ajang tahunan.” ungkapnya saat ditanyai mengenai pelaksanaan COMFEST. Iyus juga menuturkan ide terselenggaranya acara ini adalah dari sekumpulan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi yang nongkrong-nongkrong dan tiba-tiba mereka terpikir untuk membuat acara ini, yang terdiri dari lomba film pendek, lomba fotografi dan lomba lainnya.

Pelaksanaan ajang COMFEST sendiri tidak luput dari kendala dan keterbatasan. “Karena acara ini baru pertama kali diadakan, kendala yang dihadapi adalah masalah sponsor, persiapan dan lain-lain”, tambah Umay, mahasiswi Ilmu Komunikasi jurusan Penyiaran yang juga menjadi panitia acara ini.

Antusiasme mahasiswa dalam mengikuti kompetisi ini cukup besar, terbukti “Ada sekitar lima atau lebih film dari luar Jabodetabek, seperti dari Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga. Sayangnya, peserta dari SMU tidak bisa mengikuti acara ini karena bersamaan dengan penyelenggaran Ujian Nasional. Padahal film-film karya para pelajar SMU ini tidak kalah kualitasnya dan mereka tertarik untuk ikut kompetisi ini,” imbuh Iyus. Iyus juga menjelaskan tema acara ini adalah Indonesian Cultural Resistance, dimana karya film dan fotografi harus berkaitan dengan budaya dan latar belakang sosial Indonesia.

Film-film karya para mahasiswa ini memang sarat pesan. Seperti salah satu film yang memenangkan Skenario Terbaik yang berjudul Rahasia Kara. Syaiful Islam, mahasiswa IKJ yang menjadi penulis skenario film ini bercerita: “Film ini tentang seorang anak perempuan yang bernama Siti Karomah tetapi ia lebih senang dipanggil Kara. Ia malu dengan namanya sendiri yang terdengar kampungan. Sampai akhirnya rahasia itu terbuka saat dia datang terlambat dan nama aslinya dipanggil oleh guru.” Pembuatan film Rahasia Kara ini cuma memakan waktu dua hari dengan pra-produksi tiga bulan dan hebatnya film ini juga memenangkan penghargaan di sebuah festival film kampus di Bina Nusantara dan rencananya akan diikutsertakan dalam Festival Film Solo (FFS) bulan Mei mendatang.

Film terbaik dimenangkan oleh film karya mahasiswa IKJ yang berjudul Arti. Dalam wawancaranya dengan tim reporter MJEDUCATION.CO, Sang sutradara, Christian Pancanugroho menceritakan film berdurasi empat menit ini tentang kesalahpahaman seorang anak kecil dalam menafsirkan istilah yang merujuk kepada aktivitas hubungan seksual. “Intinya, film ini bercerita bahwa seringkali pendidikan seks pada anak dianggap tabu, negatif padahal sebenarnya perlu karena jika orang tua tidak memberikan pendidikan seks, maka akan terjadi salah penafsiran,”ujar mahasiswa berkacamata ini. Christian juga menuturkan bahwa  film Arti juga akan ambil bagian dalam FFS.

Hadiah bagi para pemenang ajang COMFEST berupa uang tunai dan sertifikat penghargaan dan acara ini sendiri berlangsung selama dua hari (18/4-19/4). Ajang COMFEST ini direncanakan berlangsung di tahun-tahun berikutnya, dan diharapkan acara ini dapat memotivasi para mahasiswa dan pelajar untuk terus menghasilkan film berkualitas.

(Tim Liputan Mjeducation.co)

Author: jasmeena

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>