Efek SpongeBob Terhadap Anak Balita

nickelodeon.com.au

Siapa yang tidak kenal SpongeBob Squarepants? Salah satu ikon kartun favorit anak-anak saat ini. Baru-baru ini sebuah penelitian yang diprakarsai oleh psikologis Angeline Lillard dari University of Virginia, Amerika Serikat menyatakan bahwa tontonan SpongeBob tidak layak menjadi konsumsi anak di bawah 6 tahun. Fast paced cartoon atau kartun bertempo cepat seperti SpongeBob disinyalir menghambat kerja otak dan berdampak negatif terhadap perkembangan perilaku anak.

Dari hasil studi yang melibatkan 60 anak-anak usia 4 tahun menyatakan bahwa mereka yang diberi tontonan SpongeBob cenderung mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dalam melakukan hal lain setelah menonton acara tersebut. Anak-anak ini juga menunjukkan penurunan dalam problem-solving skills, dibandingkan mereka yang diberi tontonan kartun yang bertempo lebih lambat atau kegiatan lainnya seperti menggambar.

Hal ini disebabkan oleh karakter dalam animasi SpongeBob bergerak sangat cepat dari satu fantasi ke fantasi ekstrim berikutnya. Karakter juga melakukan berbagai macam hal yang tidak masuk akal di kehidupan sehari-hari. Lilard mengungkapkan ” Kita tidak bisa mengharapkan anak akan berperilaku normal bila acara yang mereka tonton mencontohkan karakter dengan perilaku yang kacau.” Anak-anak balita menjadi terganggu perkembangannya karena mereka belum bisa mencerna dan menginterpretasi acara tersebut. Padahal pada usia keemasan ini, anak-anak sedang dalam tahap pembelajaran bagaimana berperilaku yang benar dalam hal-hal sederhana. Misalnya: bagaimana duduk di bangku dan makan dengan baik dan bagaimana berperilaku yang baik di sekolah.

Orang tua sebaiknya menyeleksi acara yang ditonton oleh anak-anak mereka. Tidak semua acara kartun “aman” bagi anak-anak. Sebuah hasil studi yang dipublikasikan di sebuah jurnal medis, Pediatrics menekankan bahwa kualitas acara yang anak-anak tonton sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Jurnal tersebut juga menyinggung masalah durasi tontonan yang layak bagi anak-anak. Kesimpulan dari jurnal tersebut menyatakan bahwa anak usia di bawah 2 tahun tidak perlu menonton acara televisi sama sekali. Sedangkan durasi menonton televisi bagi anak yang berusia 2 tahun ke atas sebaiknya dibatasi satu hingga dua jam sehari.

Ahli riset menyarankan para orang tua untuk lebih melibatkan anaknya dalam aktivitas permainan lain yang lebih bersifat kreatif, misalnya bermain board games, atau mewarnai disamping menonton televisi. Acara televisi memang bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak, tetapi perlu diingat bahwa kualitas dan durasi tontonan juga berdampak terhadap pekembangan anak, terutama anak-anak usia balita. Untuk itu, orang tua perlu mencermati jenis tontonan televisi yang sesuai dengan kategori usia anak-anak serta mengontrol durasi anak-anak menonton televisi.

telegraph.co.uk | forbes.com | health.yahoo.net

maddie

Author: maddie

Penulis adalah seorang ibu satu anak yang cukup health-conscious, punya big passion di bidang baking, tarik suara. dan scrapbooking. Lulusan Food Science yang terlanjur jatuh cinta dengan dunia tulis menulis.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>