Kartini dan Feminisme di Indonesia

foto: thecommune.co.uk

Feminisme. Apa yang ada di pikiran kamu ketika disinggung mengenai hal tersebut? Kesetaraan gender? Persamaan hak antara pria dan wanita? Feminisme adalah sebuah pemikiran yang diserukan untuk menyuarakan persamaan hak dan kedudukan antara pria dan wanita dalam aspek kehidupan. Well, mungkin beberapa dari kita sudah mengerti mengenai maksud dan tujuan diserukannya gerakan feminisme tersebut. Pemikiran feminisme ini pertama kali lahir dari seorang wanita Perancis bernama Simone de Beauvoir pada abad ke-19. Pada saat itu, Beauvoir aktif menyuarakan isu-isu persamaan hak antara pria dan wanita melalui karya sastra. Tulisan-tulisannya pun dikenal luas memiliki andil yang besar dalam pergerakan feminis gelombang pertama (first-wave feminism). Feminisme gelombang pertama ini banyak mengangkat isu-isu tentang persamaan hak bagi wanita, terutama bagi wanita kaum menengah ke bawah, yang pada saat itu menjadi kaum minoritas dalam hampir semua bidang seperti pekerjaan, pendidikan, perkawinan, serta bidang sosial lainnya.

Jika di luar kita mengenal Simone de Beaovoir sebagai pelopor gerakan feminisme, di Indonesia juga memiliki seorang pejuang feminisme yang sangat terkenal sampai saat ini, RA Kartini. Bahkan, perjuangan Kartini untuk memajukan kaum wanita telah dimulai sebelum Beauvoir, yakni sejak abad ke-18. Sama seperti Beauvoir, Kartini pun dilahirkan dari keluarga ningrat yang memiliki kedudukan di mata masyarakat pada saat itu. Keinginan Kartini untuk memajukan wanita yang pada saat itu dinilai tidak berhak mengenyam bangku pendidikan bermula ketika ia aktif berkomunikasi melalui surat dengan seorang feminis sosialis dari Belanda, Stella Zeehandaler. Dalam surat-suratnya tersebut, Kartini merasa terbuka mata hatinya dan tergugah untuk memberikan kesempatan yang sama bagi kaum wanita untuk mengenyam pendidikan. Maklum saja, pada saat itu, meski seorang priyayi, Kartini pun tidak diperbolehkan untuk mengecap bangku pendidikan yang tinggi. Pemikiran Kartini banyak dipengaruhi oleh kolonialisme, yang berpengaruh terhadap penolakannya dalam sistem feodalisme terhadap kaum miskin. Ia pun berpendapat bahwa pemikiran masyarakat Jawa yang sangat patriarkat menjadi salah satu faktor penghambat majunya perempuan di Indonesia. Kartini pun terkenal dengan bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang berisikan surat-suratnya kepada para sahabatnya tentang keinginan dan cita-citanya untuk memajukan kaum wanita di Indonesia.

Gerakan Feminisme di Indonesia

Pemikiran feminisme sangat erat kaitannya dengan emansipasi. Persamaan hak, dan tujuan untuk mengakhiri eksploitasi yang dialami oleh kaum wanita adalah spirit utama dari feminisme. Maka sejak diawalinya pemikiran dan gerakan feminisme oleh Kartini tersebut, kemudian muncullah beberapa organisasi perempuan di Indonesia.

Gerakan feminisme di Indonesia sendiri semakin diperkuat dengan digelarnya Kongres Perempuan Indonesia yang secara nasional pertama kali diadakan pada tahun 1928 di kota Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri oleh beberapa organisasi perempuan di Indonesia yang sudah berdiri. Bisa dikatakan, kongres perempuan ini menjadi fondasi utama dari munculnya organisasi-orgaisasi perempuan di Indonesia. Setelah kongres perempuan tersebut, pergerakan feminisme yang muncul kebanyakan menentang poligini, serta praktik poligami. Salah satu organisasi yang terkenal yakni gerakan Istri Sedar, yang kemudian menjadi Gerwis (Gerakan Wanita Sosialis), dan menjadi cikal bakal dari Gerwani.

Salah satu organisasi yang mendapat sorotan pada awal kemerdekaan saat itu adalah Sarekat Rakyat. Organisasi ini yang dinilai paling progresif dan mayoritas anggotanya adalah perempuan dari golongan bawah seperti buruh dan petani. Gerakan ini pun mendapat reaksi keras dari pemerintah Indonesia, karena dinilai memiliki keterlibatan dengan PKI, yang pada saat itu dianggap sebagai gerakan yang radikal. Tokoh perempuan seperti Sukaesih dan Munasisah serta beberapa anggota lainnya pun dikirim ke kamp konsentrasi Belanda yang terletak di Digul.

Jika dilihat lebih dalam, sama halnya dengan di luar negeri yang memiliki beberapa fase atau gelombang gerakan feminisme (first wave, second wave, third wave), di Indonesia pun demikian adanya. Kita bisa meruntut di awal-awal pergerakan sebelum kemerdekaan, gerakan feminisme ditujukan agar kaum wanita bisa memperoleh pendidikan seperti halnya kaum pria. Setelah itu, pada masa Orde Lama, perempuan menuntut agar mereka ikut dilibatkan dalam kebijakan elite politik. Pada masa Orde Baru, dimana kita melihat kaum wanita sangat dibatasi perannya di ranah publik, menuntut agar ruang gerak mereka tidak dibatasi seperti dalam masalah memilih pekerjaan. Yang terbaru di era Reformasi saat ini, gerakan feminisme di Indonesia menyuarakan tindak anti kekerasan yang kerap dialami perempuan, serta tema liberal lainnya.

Namun apapun kondisinya, gerakan feminisme tetaplah menjadi sebuah usaha berat yang diperjuangkan oleh Kartini pada awalnya, serta diteruskan oleh perempuan-perempuan Indonesia sesudahnya. Semangat yang diserukan oleh para feminis pun masih saling berkaitan satu sama lain, yakni membawa persamaan hak antara pria dan wanita, serta menghapuskan diskriminasi yang kerap ditujukan kepada kaum wanita baik di wilayah domestik maupun ruang publik.

 

 

artikel-media.blogspot.com | goodreads.com| pokrol.com | sekolahbersama.org

lubnamelia

Author: lubnamelia

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>