Siti Johariah, Kartini Kecil Dari Banten

Bocah perempuan berusia tujuh tahun, harus bekerja keras membantu perekonomian keluarganya dengan cara berjualan bakso keliling kampung.

Doc.TvOne 2012

“ Bakso.. bakso…,” teriak Siti Johariah, menawarkan dagangannya. Dengan suaranya yang sedikit serak ia berkeliling kampung menjual bakso. Suaranya tersebut, tak pelak menjadi perhatian warga sekitar jika ingin membeli barang dagangannya Siti.

Setapak demi setapak bocah berusia tujuh tahun tersebut melangkah dan berusaha berjualan dengan cara berkeliling kampung. Badannya yang kecil dan tangannya yang mungil, terlihat sangat berat membawa barang dagangannya. Tangan kanannya membawa termos berisi bakso dan kuah, sementara di tangan kirinya membawa ember berisi mangkuk, dan sendok serta air untuk mencuci mangkuk dan sendok. Dengan membawa beban yang berat tersebut, tak heran jika Siti berjalan sedikit tergopoh.

Saat berjualan, Siti tak pernah istirahat, kecuali ada calon pembeli yang akan membeli baksonya. Waktu yang tersedia saat melayani pembeli tersebutlah yang menjadi waktu istirahat baginya. Selain itu, Siti tidak pernah mengeluh kepada pelanggannya saat berjualan, dengan sikapnya tersebut banyak warga, terutama tetangga Siti yang berempati padanya. Selama berjualan, tidak banyak warga yang membeli, namun Siti tetap optimis.

Siti yang bernama lengkap Siti Johariah, tinggal di sebuah rumah yang amat sederhana di sebuah kampung di Cipeundeuy, Desa Cibeureum, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten. Rumahnya terlihat kumuh, dindingnya terbuat dari papan, sementara lantainya, semi permanen. Ia tinggal bersama ibunya, bernama Mamiah. Siti mempunyai seorang kakak, namun kakaknya sudah berkeluarga yang kini tinggal di rumah mertuanya. Kondisi perekonomian keluarga kakaknya sendiri memprihatinkan, sehingga tidak bisa memberikan bantuan kepada ibu dan adiknya dalam hal ekonomi.

Siti menjadi anak yatim, saat ayahnya meninggal dua tahun lalu, saat itu, Siti berusia lima tahun. Ibunya, bekerja serabutan, kadang ia menjadi buruh tani di sawah milik tetangganya. Itu pun dilakukan jika ada tetangganya yang meminta jasa Mamiah. Namun jika tidak ada pekerjaan tersebut, ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangganya seperti mencuci atau memasak. Untuk keperluan makan, keluarga Siti juga memprihatinkan. Soal makan tidak pernah teratur, tergantung ada atau tidaknya makanan. Tak jarang, tetangga Siti memberikan makanan kepadanya, bahkan saat Siti akan berangkat ke sekolah.

Dengan kondisi ekonomi keluarga seperti itulah, Siti terpanggil untuk berjualan bakso keliling kampung. Hal itu dilakukan Siti dalam kurun waktu dua tahun ini, tak seberapa lama setelah ditinggal wafat ayah tercintanya. “Untuk membantu keluarga,” ujar Siti saat ditanya tujuan dirinya berjualan bakso.

Doc.TvOne 2012

Harga bakso yang dijual pun tidak terlalu mahal, bahkan bisa dibeli dengan harga seribu rupiah, namun tentu saja harga tersebut merupakan harga minimal. Keuntungan yang didapat Siti juga tidak terlalu besar dari hasil jualannya. Karena bakso yang dijual merupakan bakso milik tetangganya.

Sementara itu, uang hasil jualan bakso, seluruhnya diberikan kepada ibunya. Siti hanya diberi uang sebesar dua ribu rupiah oleh ibunya. Hal itu juga didapatkan Siti jika jualannya habis. Namun jika tidak habis Siti paling mendapat uang tujuh ratus sampai seribu rupiah. Kadang, uang tersebut digunakan Siti untuk jajan di sekolahnya.

Ibunya sendiri, mengaku uang yang diperoleh Siti, digunakan untuk keperluan makan sehari-hari. “Uang itu dipakai untuk makan sehari-hari,” ujar Mamiah, Ibu Siti, saat ditanya mengenai uang yang didapat Siti dari berjualan bakso.

Mamiah sendiri, sebenarnya tidak tega melihat anaknya berjualan bakso keliling kampung. Apalagi jarak tempuh yang dilakukan Siti mencapai tujuh sampai sepuluh kilometer. Belum lagi barang dagangannya yang berat yang harus dibawa, menambah beban buat Siti. Mungkin sedikit lega bagi Siti, jika jualannya habis, karena beban yang dibawa Siti akan berkurang.

Menurut ibunya, berjualan bakso merupakan keinginan Siti sendiri. Ia tidak pernah menyuruhnya, apalagi sampai memaksa.

Siti Anak Rajin
Aktivitas Siti terbilang padat setiap harinya. Ia memang termasuk anak rajin. Pagi hari, usai bangun tidur, ia mempersiapkan diri dan  bergegas pergi ke sekolahnya di SDN 2 Cibeuerum. Kadang, Siti tidak sarapan ketika akan pergi sekolah, lantaran tidak ada makanan yang bisa dimakan. Sesekali, tetangganya memberikan makanan untuk sarapan Siti.

Di sekolahnya, Siti terbilang siswa rajin, ia selalu mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah jika ditugaskan gurunya. Siti juga termasuk orang yang gampang bergaul, tak heran jika Siti memiliki banyak teman.

Siti belajar di sekolah sekitar tiga sampai empat jam. Sebelum jam 12 Siti sudah pulang dari sekolahnya. Kadang-kadang setiba di rumahnya, Siti lapar dan tidak ada makanan untuk dimakan. Ia hanya sendiri, sementara ibunya belum pulang bekerja sebagai buruh tani di sawah milik tetangganya.

Tidak seperti anak kebanyakan, pulang sekolah, tak lantas bagi Siti untuk beristirahat atau tidur siang. Ia malah pergi ke rumah tetangganya untuk mengambil bakso yang akan dijualnya. Usai berjualan, menjelang sore, Siti pergi sekolah agama untuk mengaji. Dari hasil belajarnya ditempat pengajian tersebut, Siti sudah bisa membaca huruf-huruf Arab yang ada dalam Buku Iqra. Siti juga sudah mulai bisa membaca berbagai doa termasuk bacaan shalat lima waktu. Ditempat mengaji tersebut, Siti belajar hingga petang. Sementara waktu malamnya dijadikan Siti untuk mengulang pelajaran yang didapat di sekolah formalnya. Atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditugaskan gurunya. Setelah itu semua beres, ia baru beristirahat tidur.

Siti memang termasuk bocah yang masih polos, ia bercita-cita ingin menjadi dokter dan guru ngaji. Bagi Siti, bahkan bagi kebanyakan orang, cita-cita tersebut sangat tinggi dan mulia. Siti dan keluarganya hanya bisa berharap, kelak cita-citanya tercapai, meski kondisi perekonomiannya memprihatinkan.

Banyak Simpati untuk Siti
Sebenarnya, banyak yang iba atas keadaan Siti dan keluarganya, termasuk dari para tetangganya. Tak jarang, tetangga dekat Siti memberikan makanan, meski seadanya. Di sekolahnya sendiri, teman-temannya pernah mengumpulkan dana bantuan untuk Siti. Jumlah yang terkumpul memang tidak terlalu besar, lantaran di sekolah tersebut para muridnya banyak yang tidak mampu. Namun ini bisa menjadi bukti empati terhadap keadaan Siti.

Suatu hari, kerja keras Siti sendiri banyak menjadi perhatian media televisi nasional. Berbagai keseharian Siti banyak diliput media nasional. Tak pelak, ia menjadi sosok bocah kecil, pekerja keras yang megagumkan banyak penonton televisi. Siti menjadi buah bibir, banyak khalayak yang berempati padanya, tak hanya datang dari tetanganya melainkan dari para pemirsa yang menonton keseharian Siti, termasuk dari kalangan pengusaha yang dermawan. Salah satu pengusaha yang berempati, mencoba memberikan bantuan kepada Siti dan keluarganya. Bantuan tersebut berupa biaya pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Bahkan Siti ditawari pekerjaan jika dirinya lulus kuliah nanti.

Tak hanya buat Siti, keluarganya dalam hal ini ibunya juga mendaptakan bantuan. Dengan adanya bantuan tersebut, Siti berencana berhenti untuk berjualan bakso keliling kampung dan memfokuskan diri untuk belajar, demi mencapai cita-citanya menjadi dokter dan guru ngaji.

Siti Lain di Indonesia
Kehidupan sehari-hari Siti Johariah merupakan salah satu fakta yang sangat umum terjadi di Indonesia. Sebenaranya banyak Siti lain yang kondisi perekonomiannya memprihatinkan, bahkan mungkin lebih buruk dari kondisi Siti.

Kita tak bisa menutup mata, masih banyak anak usia sekolah yang mengamen di jalanan, berjualan koran bahkan menjadi pengemis, demi menyambung hidup. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah jika anak dipaksa untuk mencari uang oleh orang terdekatnya, termasuk orang tuanya, padahal di usia sekolah, tugas anak adalah belajar dan bermain dengan sewajarnya bersama teman-temannya.
Menurut lapora Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) seperti yang dikutip Tempo.co, bahwa anak-anak usia 5-7 tahun masih banyak yang dipekerjakan dalam pekerjaan yang berbahaya. Di Indonesia, hasil pendataan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 1,7 anak-anak adalah pekerja. Faktor pendukung anak melakukan pekerjaan diantaranya adalah, banyaknya orang miskin di Indonesia, sehingga banyak anak menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.

(Tim Liputan MJEDUCATION.CO)

Author: nugraha danu

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>