Kekerasan Anak: Sebuah Renungan

www.freedigitalphotos.net

Di tengah gonjang-ganjing pemberitaan politik yang menyoroti kasus Wisma Atlet, bulan Februari 2012 ini kita dikejutkan dengan berita seorang anak ditusuk teman sekelasnya sendiri akibat pencurian telepon genggam. Sy, inisial korban penusukan, mengira teman sekelasnya, Amn, mencuri telepon genggam miliknya. Kondisi Sy saat ini berangsur membaik setelah menjalani perawatan di RS Fatmawati. Sedang pelaku, Amn, akan menjalani perawatan psikologis.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi, menginginkan agar pelaku tidak diperlakukan sebagai seorang kriminal karena ia tetaplah seorang anak dan ternyata Amn sendiri adalah produk kekerasan dari keluarganya. Ia sering dipukul oleh orangtuanya. Hal ini menimbulkan protes keras dari keluarga Sy. Orangtua Sy, pasangan tuna netra yang hidup sederhana, menuntut keadilan untuk Sy. Mereka tidak menyangka Sy ditusuk oleh anak yang selama ini sering main bersama dan teman sekelas.

Semakin hari, kekerasan terhadap anak dan kekerasan yang dilakukan oleh anak cenderung mengalami pengingkatan. Betapa sering kita mendengar kasus bullying di sekolah, kekerasan antar gang remaja, tawuran sampai kekerasan yang dilakukan orang dewasa terhadap anak.

Sebagai contoh, kasus tawuran. Menurut catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tahun 2011 terjadi peningkatan kasus tawuran pelajar dengan 128 kasus dan menewaskan 82 siswa.

Maraknya kasus kekerasan anak ini membuat kita semua prihatin dan tentunya kita tidak bisa hanya berdiam diri dan merasa sudah mendidik anak dengan benar (bagi orang tua dan guru). Cobalah merenung untuk beberapa menit

Bagi Orang tua…
“Sudahkan saya memberikan waktu yang berkualitas bagi anak di tengah kesibukan bekerja?”
“Sudahkan saya mencurahkan kasih sayang yang dibutuhkan anak saya?”
“Apakah saya sudah memperlakukan anak saya secara adil?”
“Sudahkah saya memberi contoh yang baik bagi anak-anak saya?”

“Apakah selama ini saya selalu mengindentikkan kasih sayang dengan MATERI ?
sehingga abai dengan apa yang ia rasakan?”
“Apakah selama ini saya selalu berdalih”Sibuk kerja”, “Tidak Ada Waktu” saat anak saya membutuhkan saya?Padahal ia tidak meminta apa-apa, hanya meminta saya MENDENGAR, MEMAHAMI dan MENGHARGAI perasaan dan pemikirannya?”
“Mungkin saya tidak pernah menghukumnya secara fisik. Tetapi, mungkinkan saya pernah mengatakan sesuatu yang tidak saya sadari melukai jiwa anak saya?”

Bagi Guru…
Sudahkah saya mengajarkan nilai-nilai kehidupan bagi anak, tidak hanya materi pelajaran saja?”
“Sudahkah saya menghargai murid saya dengan sepenuh hati?”
“Apakah selama ini tanpa saya sadari saya memperlakukan murid-murid saya dengan tidak adil?”
“Apakah selama ini saya hanya menghargai anak dari prestasi akademis semata padahal pada dasarnya semua anak punya potensi?”

Bagi Media…
“Apakah kami tidak berlebihan memberitakan kekerasan?”
“Apakah benar anak-anak mencontoh apa yang kami tayangkan di televisi?”
“Sudahkah kami membuat sesuatu yang tidak hanya menghibur dan menguntungkan tetapi juga mendidik?”

Bagi Pembuat Kebijakan
“Apa yang sudah kami perbuat agar anak-anak bisa menyalurkan potensi dan bakat mereka?”
“Apa selama ini kami abai?Apa selama ini kami hanya membangun, membangun dengan tujuan keuntungan tetapi tidak memperhatikan aspek lain?”
“Apakah kami sudah menyediakan tempat bermain yang layak bagi anak-anak negeri ini?”

Stop KEKERASAN TERHADAP ANAK dan JAUHKAN anak-anak dari melakukan tindakan kekerasan. Mari kita bersama-sama menjadi contoh yang baik bagi mereka, karena pada dasarnya anak-anak adalah peniru ulung. Mari kita ciptakan lingkungan yang dapat membuat anak merasa nyaman dan aman. Semoga renungan ini bermanfaat

| detik.com |vivanews.com |  okezone.com | kompas.com

Author: jasmeena

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>