Ketika Anak Muda Bicara REDD

wwf.panda.org


“We should focus on forests first, not the money. The money will only go to industries”
“We need help reduce carbon emission from deforestation. It`s impossible to create total ban of deforestation. That`s why we need REDD grant”

Adu argumen ini bukan berlangsung di pertemuan lingkungan hidup tingkat dunia yang membahas bantuan untuk mengurangi emisi karbon akibat deforestasi dan perusakan hutan atau dikenal dengan nama REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation). Saling lempar argumen ini berlangsung di lomba debat bahasa Inggris antar pelajar SMU dengan tema lingkungan hidup yang diadakan organisasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF) bekerjasama dengan salah satu media mingguan cetak berbahasa Inggris untuk pelajar.

Acara ini adalah puncak dari acara Heart of Borneo Initiative yang berlangsung di AtAmerica, Pacific Place, Jakarta Selatan selama tiga hari berturut- turut (18/4-20/4). Hari Jumat (20/4) adalah hari terakhir dimana semifinal dan final lomba debat berlangsung. Semifinal pertama mempertemukan antara Australian International School (AIS) Pejaten sebagai Affirmative Team dan St.Laurentia Serpong sebagai Negative Team dengan tema: Perlunya legalisasi kloning untuk melestarikan satwa yang terancam punah.

Sementara semifinal kedua dengan tema: Binatang liar tidak seharusnya ditempatkan di kebun binatang adalah SMU 28 Ragunan, Jakarta Selatan sebagai Affirmative Team dan SMU Global Jaya sebagai Negative Team. Kita bisa menyaksikan betapa hebatnya pelajar-pelajar ini menyampaikan argumennya.

Sebelumnya, babak penyisihan berlangsung di UPH College, Plaza Semanggi (14/4) dan diikuti oleh beberapa sekolah seperti Binus International School Serpong, SMAK 1 Penabur, Sekolah Bina Bangsa, MAN Insan Cendekia Serpong, High Scope Kelapa Gading, SMAN 39, ACG dan masih banyak lagi. Penjurian dilakukan oleh penonton dengan mengisi formulir tentang kedua tim. Kategori penjurian terdiri dari argumen yang disampaikan, kejelasan suara, bahasa tubuh, presentasi dan alur penyampaian dari pembicara satu ke pembicara lain.

Lalu, tibalah saat yang ditunggu-tunggu: Grand Final yang mempertemukan antara AIS dan Global Jaya dengan tema yang bisa dibilang ”kelas berat” : Tidak satu negara pun berhak menerima bantuan uang untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi kecuali perusakan hutan bisa dihentikan secara total. Perdebatan ini berlangsung sangat seru, bahkan kita tidak menyangka bahwa argumen-argumen cerdas ini dilontarkan oleh para pelajar SMU. AIS sebagai Affirmative Team menyimpulkan harus ada larangan deforestasi menyeluruh sebelum dana REDD diberikan, karena fokus utama adalah menyelamatkan hutan, bukan tentang uang. Sementara sebagai Negative Team, Global Jaya mengatakan bahwa sangat tidak mungkin menghentikan deforestasi secara menyeluruh, terlebih di Indonesia. “We need REDD grant and without REDD, we will be dead,”kata Nadira, pembicara pertama dari Global Jaya saat debat berlangsung.

Sebelum pengumuman pemenang, peserta dihibur oleh Bapak Elias, seorang musisi tradisional yang gigih melestarikan musik alam. Ia memperkenalkan alat-alat musik dari kayu dan memainkannya. Hebatnya lagi, Elias yang berasal dari Kalimantan Timur juga mengajar musik tradisional di sekolah-sekolah. Bagaimana rasanya mengajar musik ”aneh” di tengah gempuran budaya luar? “Awalnya ide itu dianggap konyol, tetapi lama-lama mereka tertarik,” kata Elias saat ditanyai mengenai kesan-kesan selama mengajar murid-murid di sekolah

Selepas dihibur musik tradisional khas Pak Elias, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang. Saat penyerahan hadiah, dalam sesi ini, Direktur Pemasaran WWF Indonesia Devy Suradji menyampaikan kekagumannya pada ide-ide yang dikemukakan para peserta. ”Ide mereka sangat luar biasa, bahkan saya pun tidak terpikir akan hal itu.”, ungkapnya. Di lomba debat kali ini, AIS berhasil memperoleh juara pertama dan Global Jaya meraih juara kedua. Hadiah bagi para pemenang tidak tanggung-tanggung, yakni berupa paket perjalanan ke Jantung Borneo dan kesempatan untuk menyusuri hutan belantara di sana. Wah, seru bukan? Ingin tahu lebih lanjut tentang Heart of Borneo?

Heart of Borneo: Tiga Negara, Satu Tujuan
Kita sering mendengar hutan Indonesia adalah paru-paru dunia. Ironisnya, perusakan hutan di Indonesia tergolong paling cepat. Pertambangan, perkebunan sawit, penebangan liar membuat kondisi hutan Indonesia semakin memprihatinkan.

Di sela-sela acara, tim reporter MJEDUCATION.CO sempat mewawancara Nancy Ariaini atau biasa disapa Ochie, International Communications Officer WWF Indonesia:

Apa latar belakang diselenggarakan event ini?
Kami ingin menampilkan sisi lain Borneo, memperkuat partnership dari para pemangku kepentingan, pembuat kebijakan dan generasi muda. Selama ini orang tahu tentang Borneo tetapi terbatas tentang perempuan Dayak yang kupingnya panjang. Nah, kami ingin bisa membangun image Borneo dengan cara yang berbeda, karena di sini ada pertunjukan budaya seperti tarian,musik, tato. Selain itu, berkaitan dengan Hari Kartini dan Hari Bumi, di Gandaria City (22/4) akan ada acara bincang-bincang dengan perempuan Dayak yang aktif dalam kegiatan konservasi. Di AtAmerica ini ada juga nanti diskusi berkaitan dengan ekonomi hijau. Green Economy adalah salah satu yang kita tuju

Ekspektasi dari kegiatan ini?
Harapannya agar orang semakin kenal dengan Borneo, mempunyai simpati lebih dan mendukung program ini. Semoga ke depan kami bisa menghubungkan anak-anak muda di Borneo dengan anak-anak muda di sini untuk bisa bertukar pemikiran tentang penyelamatan lingkungan. Diharapkan dari dialog ini akan ada pemikiran-pemikiran inspiratif dan juga tindakan untuk menyelamatkan hutan Borneo.

Bisa dijelaskan tentang Heart Of Borneo (HoB) Initiative?
Heart of Borneo Initiative sebenarnya adalah program pemerintah yang melibatkan tiga negara (Indonesia, Malaysia, Brunei) untuk melestarikan hutan tropis di Jantung Borneo. Kawasan itu mempunyai arti penting karena ia mempunyai fungsi ekologis, ekonomi yang mendukung kehidupan masyarakat lokal. Ketiga negara ini sepakat membangun kawasan ini dengan menerapkan pembangunan yang ramah lingkungan,atau istilahnya pembangunan berkelanjutan. Diharapkan dengan kerjasama ketiga pemerintah ini, dapat meredam kerusakan hutan.

Pada tahun 2012, WWF sendiri sebagai mitra pemerintah berhasil mengumpulkan beberapa mitra untuk merancang program yang mendukung pemerintah tiga negara melangkah menuju Ekonomi Hijau. Bulan September mendatang akan diadakan pertemuan antar ketiga negara tersebut untuk meninjau sejauh mana program HoB ini berjalan.

Mengomentari tentang kebutuhan akan energi alternatif yang dalam pengembangannya sering tumpang tindih dengan kelestarian hutan? “Itu menjadi pekerjaan rumah kita. Kita bisa mengembangkan energi terbarukan tanpa merusak hutan, seperti mikro hidro. Nah, di sini kami juga melibatkan masyarakat untuk mengembangkan energi alternatif di kawasan mereka,”ujar perempuan yang sudah delapan tahun bekerja di WWF. Ochie juga mengatakan bahwa green economy, green living bisa dimulai dari hal yang sederhana seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi penggunaan kertas dan sebagainya.

Special Advisor program HoB dari WWF Malaysia Dato` Mikaail Kavanagh dalam wawancara dengan tim reporter MJEDUCATION.CO menjelaskan betapa pentingnya kawasan Heart of Borneo (HoB) sebagai penyedia sumber air penting. Ia juga menjelaskan tentang tantangan pelaksanaan program. “Kita bekerja sama dengan negara yang mempunyai sistem hukum berbeda untuk menyelamatkan kawasan seluas 220.000 kilometer persegi di Jantung Borneo, terlebih dengan banyaknya industri yang beroperasi di kawasan itu,” ujar Mikaail.

Mengomentari tentang perkebunan kelapa sawit, di satu sisi merupakan komoditas penting dan disebut sebagai bahan utama energi alternatif, tetapi sering juga dituding sebagai penyebab kerusakan hutan? “Kelapa sawit jelas komoditas penting dan bagaimana cara mengembangkan energi alternatif tanpa merusak hutan caranya dengan pendekatan tata ruang yang jelas. Harus ada pemetaan jelas, mana kawasan konservasi, mana kawasan untuk perkebunan,” ujarnya menutup pembicaraan.

Acara ini menyadarakan kita bahwa generasi muda juga punya kepedulian pada pelestarian lingkungan hidup. Semoga ke depan bisa terjalin kerjasama antara pemerintah,organisasi lingkungan hidup, masyarakat lokal dan generasi muda untuk menyelamatkan bumi yang kita huni ini. (Tim Liputan MJEDUCATION.CO)

Author: jasmeena

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>