Ketika Sang Dewi Mencintai ‘Kuli Tinta’

‘Kuli tinta’ begitulah orang-orang menyebut profesi yang satu ini. Sebutan ini bisa jadi memiliki kesamaan dengan penyebutan Kuli bangunan. Ya, sama-sama ‘KULI’. Jika kuli bangunan mengandalkan kekuatan ‘otot’, maka kuli tinta justru lebih mengandalkan kekuatan ‘otak’. Dengan bermodalkan beberapa ‘peralatan’ liputan seperti pena, buku saku dan voice recorder (perekam suara), serta ditunjang perpaduan kreativitas dan kecerdasan otak dan jari untuk ‘meramu’ informasi, kuli tinta atau wartawan siap menjalankan tugasnya.

Doc. Pribadi Jeanne Grace 2012

Memang bagi sebagian orang, pekerjaan ini hanyalah pekerjaan biasa saja, bebas dan tidak terikat akan waktu, tidak seperti pekerjaan kantoran pada umumnya. Namun bagi para wartawan, justru profesi ini memiliki arti yang lebih karena jumlah 24 jam dalam sehari, tidak terasa cukup untuk memenuhi kebebasan kreativitas dan waktu kerja mereka.

Bagi mereka yang telah menekuni profesi ini, mungkin lebih mencintai sejumlah resiko berat yang dialami, ketimbang jumlah materi yang diperoleh dari hasil keringat mereka. Bahkan, nyawa pun bisa menjadi taruhan dan harga terbesar dari profesi ini. Tidak heran, jika sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan ini tidak cocok bagi kaum perempuan.

Pemikiran seperti ini malah semakin terbantahkan dengan kehadiran sosok-sosok perempuan yang justru ‘terpikat’ dan ‘betah’ menjalani pekerjaan mereka sebagai wartawan. Salah satu diantaranya adalah Deice Pomalingo atau biasa disapa Dewi. Perempuan kelahiran Gorontalo, 4 Desember 1980 ini sehari-hari bertugas sebagai salah seorang wartawan di media cetak terbesar di Gorontalo yaitu Gorontalo Post. Gorontalo Post sendiri merupakan cabang dari Jawa Pos Group, yang tidak lain merupakan salah satu media cetak terbesar di Indonesia.

Bukan tanpa halangan, Dewi mengaku harus tiga kali mengajukan lamaran pekerjaan sebelum akhirnya diterima sebagai salah satu wartawan di Gorontalo Post. Bahkan, ia membutuhkan waktu selama satu tahun untuk bisa mengubah statusnya dari wartawan magang menjadi wartawan tetap. Waktu satu tahun bagi Gorontalo Post termasuk waktu yang cukup singkat untuk mengubah status seorang wartawan magang. Karena biasanya, para wartawan magang membutuhkan waktu satu setengah tahun bahkan bertahun-tahun untuk dapat diterima sebagai wartawan tetap di Gorontalo Post. Tentu saja, ini merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi Dewi.

 Dewi berkisah, untuk menjadi seorang wartawan seperti saat ini, tidak semudah yang dibayangkannya. Apalagi, ia termasuk orang yang salah jurusan. Usai menamatkan pendidikan SMA, Dewi justru memilih melanjutkan studi di Jurusan Sistem Informasi STMIK Ichsan Gorontalo sebagai modal untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, siapa sangka, Dewi justru berbelok arah dan memilih untuk menjadi seorang wartawan. Niatnya timbul setelah melihat beberapa teman prianya bekerja sebagai wartawan. Dewi pun merasa tertantang untuk mendalami pekerjaan ini.

 Putri pasangan Andi Pomalingo dan Sarwin Hasiru ini kemudian mencoba mengajukan lamaran pekerjaan sebagai wartawan. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih media Gorontalo Post yang dikenal sebagai media cetak terbesar di Gorontalo yang cukup selektif dalam penerimaan karyawan. Dua kali ditolak tidak membuat Dewi patah semangat. Meski niatnya untuk bekerja di media Gorontalo Post  ‘pupus’ sudah, Dewi tetap bertekad ingin menjadi seorang wartawan. Ia pun kemudian melamar sebagai reporter di media TV lokal Gorontalo, yaitu Gorontalo TV (GOTV). Nasib baik pun menyapanya. Ia diterima sebagai reporter yang bertugas untuk berita advertorial pada pertengahan tahun 2006. Sayangnya, ia hanya mampu bertahan selama 3 bulan. Setelah memutuskan berhenti dari GOTV, Dewi kembali mencoba peruntungannya di Gorontalo Post untuk ketiga kalinya. Usahanya pun tidak sia-sia. Ia berhasil diterima di Gorontalo Post pada bulan September tahun 2006 sebagai wartawan magang. Akhirnya, pada bulan yang sama di tahun 2007 atau setahun kemudian, Dewi berhasil menjadi wartawan tetap di Gorontalo Post dan bekerja sampai saat ini.

 Menurut Dewi, menjadi seorang wartawan bukanlah hal yang mudah baginya. Karena informasi atau berita yang disajikan harus berdasarkan pada 3 K, yakni Kecepatan, Keakuratan dan tentu saja Kebenaran informasi atau berita. Ia pun harus kreatif dalam ‘meracik’ informasi atau berita yang diperoleh, agar menarik dan bermanfaat bagi para pembaca. Belum lagi, berbagai tantangan di lapangan dan tuntutan redaksi yang sering membuatnya tertekan.

  Selama menjadi wartawan, Dewi memiliki berbagai pengalaman yang kadang menyedihkan, menyenangkan bahkan menegangkan. Namun, ada satu pengalaman yang cukup mengesankan baginya, yaitu saat ia memuat berita perseteruan antara dua Pimpinan Daerah di Provinsi Gorontalo. Akibatnya, Dewi harus menjalani pemeriksaan selama 3 (tiga) jam di Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo sebagai saksi dari perseteruan antara kedua belah pihak. Bukannya kapok, Dewi justru semakin tertantang untuk menulis berita yang lebih ‘menantang’.

Bagi Dewi, pekerjaan sebagai wartawan membutuhkan otak dan nyali. Meski harus melewati beberapa kesan yang tidak menyenangkan saat berada di lapangan, Dewi justru mengaku bahwa wartawan adalah pekerjaan yang paling membanggakan bagi dirinya. Dengan pekerjaan inilah, ia dapat dengan ‘leluasa’ bergaul dengan semua kalangan, mulai dari masyarakat bawah hingga para pejabat. Selain itu, pekerjaan ini dapat membuatnya membantu berbagai pihak, utamanya masyarakat bawah untuk berpendapat dan memberikan aspirasinya kepada pemerintah. Dewi pun merasa semakin ‘cerdas’ dengan apa yang ia jalani saat ini.

Satu hal yang menurutnya merupakan resiko paling ekstrem yang diterimanya saat berada di lapangan, yaitu “siap diperlakukan dan dianggap sama seperti laki-laki!”. Resiko inilah yang membuat Dewi ingin bersaing dan terus berprestasi untuk menunjukkan kepada semua orang, bahwa wartawan bukanlah pekerjaan yang hanya diperuntukkan untuk laki-laki tetapi juga perempuan. Namun, Dewi tidak menampik jika dirinya diperlakukan lebih terhormat dan malah merasa terlindungi ketika berada di antara kerumunan wartawan laki-laki. Semuanya tentu berasal dari penghormatan terhadap diri sendiri dan penghargaan terhadap pekerjaan yang ditekuninya saat ini.

Meski memulai kariernya di Gorontalo Post hanya sebagai wartawan dinamika (wartawan yang menangani berbagai keluhan dan persoalan yang terjadi dalam masyarakat), kini Dewi boleh berbangga karena dari tahun ke tahun, posisi dan jabatannya terus merangkak naik berkat prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Dewi pun telah menjadi salah satu redaktur di Gorontalo Post sekaligus wartawan yang menangani informasi dan berita tentang Politik dan Pendidikan.

Inilah salah satu wujud perjuangan perempuan-perempuan masa kini untuk melanjutkan cita-cita dan harapan dari tokoh emansipasi perempuan yaitu Raden Ajeng Kartini. Bagi Dewi, Raden Ajeng Kartini telah mengajarkannya untuk memahami arti perjuangan emansipasi perempuan yang sesungguhnya, yakni lebih menghargai arti kebebasan untuk menjadi diri sendiri dengan pemikiran yang lebih maju dan modern, namun tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Hal ini nampak jelas pada harapan Dewi, yang justru memilih menjadi istri teladan bagi suaminya dan ibu yang baik bagi anak-anaknya saat ia menikah nanti. Baginya, menjadi perempuan yang sukses dalam karier akan terus ditekuninya ‘jika’ ia memiliki kemampuan yang ‘lebih’ besar saat menjalani perannya sebagai istri dan ibu bagi suami dan anak-anaknya kelak. Tidak ada pilihan atau toleransi untuk menjalani keduanya, apabila kemampuannya nanti, tidak lagi berimbang dengan keadaan yang ada. Karena bagi Dewi, keluarga tetaplah yang pertama dan utama.

Dari berbagai pengalaman baik dan buruk yang ia dapatkan sebagai seorang wartawan, mengajarkan Dewi tentang satu hal penting bahwa “tidak ada nilai berita yang lebih berharga daripada nyawa !”. Meski demikian, Dewi dengan bangga mengatakan, “Wartawan tetaplah pekerjaan yang mulia dan patut menjadi referensi bagi perempuan-perempuan di Indonesia yang merasa tertantang dan terpanggil untuk menjadi bagian dari dunia jurnalistik.”

(Tim Liputan MJEDUCATION.CO)

Jeane Grace

Author: Jeane Grace

Berkarya di dunia radio komersial sejak 2003, Jeane Grace Derdanela saat ini adalah manager program di Kosmonita Radio, Gorontalo.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>