Kewirausahaan Perguruan Tinggi

Berbagai cara dan metode telah digunakan untuk mengatasi tingginya tingkat pengangguran sarjana namun belum memberikan hasil yang signifikan. Kampus masih menjadi pabrik pengangguran yang produktif tiap tahunnya. Jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,6% (9,26 juta jiwa), 30-40% kaum muda, dengan 10% merupakan pengangguran sarjana (BPS, 2010).

Melihat fenomena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menularkan dan menyebarluaskan virus entrepreneurship berbalut kurikulum kewirausahaan. Lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi diharapkan menerapkannya. Harapannya, sarjana tidak berjubel antre melamar kerja dan menjadi PNS dengan uang ratusan juta. Mereka diharapkan mengisi kekurangan wirausahawan yang masih langka di negeri ini.

Pertanyaannya, apakah masalah pengangguran sarjana selesai dengan kurikulum itu? Kenyataannya, hal itu belum membantu mengatasi bertambahnya pengangguran sarjana. Karena, dalam penerapannya terjadi pendangkalan makna kewirausahaan. Kewirausahaan yang padanan asingnya entrepreneurship ini, hanya dimaknai keterampilan bisnis dalam aspek ekonomi. Kewirausahaan hanya terbatas pada membuat usaha baru, bukan menumbuhkembangkan budaya, sifat, dan spiritnya. Menurut Peter F Drucker, kewirausahaan menyangkut semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya ekonomi. Perlu pemaknaan mendalam dan pemahaman agar kewirausahaan tumbuh membudaya di kampus. Dalam perspektif sosiologis, untuk menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan sangat efektif dilakukan dalam pendidikan yang terdesain. Lalu, apa sebenarnya kewirausahaan itu?

Substansi

Entrepreneurship (KBBI, 2005) adalah sifat seseorang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, dan mengatur permodalan operasinya dengan produknya berupa barang/jasa maupun informasi. Wasty Sumanto (1993), wirausaha adalah keberanian, keutamaan, dan kekuatan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah hidup dengan potensi yang ada padanya.

Sifat itu akan melahirkan entrepreneur yang sukses di bidang bisnis, pendidikan, olahraga, seni, dan lainnya. Entrepreneur di bidang pendidikan, akan mampu mengangkat prestasi sekolah atau kampus menjadi lembaga pendidikan berkualitas dan dipercaya (Moh. Ali: 2010). Di bidang olahraga, mereka menjadi atlet bermental kuat, pantang menyerah, tidak mengaku kalah sebelum waktu habis, dan mengalahkan lawan dengan cara baru.

Substansi kewirausahaan adalah menanamkan dan menumbuhkembangkan karakter mandiri dan berdaya. Djohar (Moh. Ali, 2010) menyebut karakter wirausahawan yaitu visioner atau berwawasan jauh ke depan, memiliki semangat lebih dari kebanyakan orang dalam beberapa atau banyak hal, berani menganut sistem berbeda dengan yang dianut banyak orang, berani mengambil keputusan sekaligus menanggung risikonya, dan memiliki konsep solusi untuk masalah yang dihadapi. Sehingga, sarjana fresh graduate akan tahan banting, mandiri, dan mampu menyelesaikan masalah dengan potensinya.

Penerapan kurikulum kewirausahaan yang tepat, akan meluluskan sarjana yang visioner, kreatif, proaktif, progresif, inovatif, tangguh, pantang menyerah, dan berani menanggung risiko atas keputusan yang diambil. Di sisi lain juga akan menumbuhkembangkan sikap saintis mahasiswa berupa sikap ingin tahu yang tinggi terhadap satu atau beberapa disiplin ilmu, fleksibel menghadapi pelbagai kondisi dan tekanan, berpikir kreatif-positif, dan menyukai tantangan.

Spirit

Pendangkalan makna entrepreneurship harus diubah agar bisa dimaknai secara mendalam dan komprehensif. Sehingga, penerapan kurikulum ini tidak hanya meluluskan sarjana yang sukses di bidang bisnis atau ekonomi, tetapi di pelbagai bidang dengan spirit kewirausahaan. Mereka berkarya dan berinovasi di bidang pendidikan, olahraga, pemerintahan, seni, dan lainnya serta tidak menambah pengangguran di masyarakat.

Untuk mewujudkannya, perlu mengubah model pembelajaran informatif menjadi pembelajaran terhadap masalah. Karena, banyak kampus yang hanya memberikan informasi ke mahasiswa dalam pembelajarannya. Akibatnya, banyak sarjana gagap dengan realitas kehidupan setelah lulus.

Berbeda dengan pembelajaran problem-solving yang berorientasi pada kemampuan untuk menemukan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Pembelajaran ini akan membuat sarjana menjadi kreatif, proaktif, dan mengurangi pengangguran. Sehingga, kampus tidak lagi menjadi pabrik pengangguran yang membebani masyarakat. Sarjana berspirit kewirausahaan akan menjadi problem solver dalam mengatasi pengangguran. Mereka akan mengentaskan, bukan menambah pengangguran.

Dari sini kita bisa belajar bahwa dalam menerapkan kurikulum kewirausahaan perlu berorientasi pada tumbuhnya budaya, sifat, karakter, dan spirit kewirausahaan dalam diri mahasiswa. Sehingga, kampus akan meluluskan sarjana berkarakter wirausahawan dengan kreativitas yang berguna dalam kehidupan di masyarakat. Serta tidak akan menjadi beban sosial masyarakat.

Author: Bonnie Eko Bani

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>