Mau Dibawa Kemana Pancasila Kita?

foto: id.wikipedia.com

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Familiarkah anda dengan kalimat di atas? Ya, kalimat tersebut adalah salah satu sila Pancasila yang selalu dibacakan di setiap upacara bendera. Hakekatnya, ideologi Pancasila dirumuskan untuk menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi rakyat Indonesia. Namun, sudahkah kita mengaplikasikan nilai-nilai luhurnya dengan benar?

Dilihat dari sejarahnya, Pancasila dirumuskan oleh para petinggi negara pada saat itu yakni presiden Soekarno, Bung Hatta, Moh. Yamin, dan lainnya. Bangsa Indonesia yang pada saat itu baru mendeklarasikan kemerdekaannya, merasa perlu untuk membentuk suatu ideologi yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan benegara. Namun, sebenarnya pemikiran yang terkandung di dalam Pancasila telah dikemukakan presiden Soekarno pada pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Sejak saat itu, setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

Pada perkambangannya, Pancasila mengandung lima dasar pemikiran dan setiap bulirnya tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Namun pada saat ini, penerapan ideologi dan nilai-nilai Pancasila dianggap semakin tidak relevan dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Coba saja tengok perayaan hari lahir Pancasila yang digelar tahun lalu mengundang rusuh dari masyarakat itu sendiri. Para pemimpin negara tidak lagi mengindahkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila. Praktik korupsi semakin merajalela dan mencederai keadilan hukum. Para pelaku praktik korupsi ratusan juta serta para mafia hukum hanya diganjar hukuman 2 tahun penjara. Sedangkan coba lihat, orang yang mengambil ubi dari kebun orang lain karena kelaparan harus menanggung hukuman selama 6 tahun penjara. Di sini kita bisa melihat betapa kronisnya penyelewengan nilai Pancasila yang terjadi. Hukum tidak lagi memihak kepada keadilan sosial, melainkan memihak pada penguasa elite politik yang berduit.

Tak hanya sampai disitu, pelanggaran hak serta maraknya praktik kekerasan yang terjadi pun semakin membuat kita miris. Penolakan-penolakan yang di suarakan organisasi tertentu dalam berbagai hal pun semakin memboikot kebebasan masyarakat untuk berekspresi. Seni dianggap maksiat. Perkumpulan dianggap sesat. Menyuarakan pendapat dilakukan dengan jalan kekerasan. Lalu apa yang terjadi dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab? Etika berpendapat tentu diperlukan untuk menjaga demokrasi terbuka yang menjadi dasar pemikiran bangsa. Namun, lagi-lagi hal tersebut dikesampingkan atas nama Tuhan, atas nama kepentingan bangsa. Tidakkah Tuhan menyukai jalan damai? Bangsa pun menginginkan perdamaian, bukan aksi tawuran. Aksi-aksi yang mengedepankan kepentinagn golongan tersebut pun berdampak bagi kehidupan berbangsa. Persatuan tak lagi milik Indonesia jika hal ini terus terjadi.

Sudah sepantasnya kita berfikir mengenai dasar negara kita ini. Apa guna Pancasila dan ideologi negara dibentuk jika hanya untuk di hafal tanpa ada penerapan? Tak sepantasnya kita membiarkan Pancasila hanya sebagai tulisan yang menghiasi dinding-dinding sekolah. Perumusan Pancasila bukanlah suatu hal yang sepele. Para pendiri negara ini menginginkan kita semua menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun jika hanya penyelewengan yang terus terjadi, masihkah perlu ada Pancasila di negara ini?

i.wikipedia.com | kompas.com

lubnamelia

Author: lubnamelia

Share This Post On

1 Comment

  1. saya juga sudah lupa apa pancasila masih ada..emang masih ya?nice article

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>