Menelisik May Day: Perjuangan Hak Kaum Buruh Dunia

foto: wikipedia.org

 Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari (Kongres Sosialis Dunia  di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei sebagai hari buruh sedunia)

Sepertinya sudah menjadi suatu pemandangan yang lumrah bla pada  tanggal 1 Mei menjadi hari dimana jalan-jalan akan dipenuhi dengan kegiatan demonstrasi dari kaum buruh. Berdasarkan data berita yang masuk ke Polda MetroJaya, akan ada sekitar 52 .000  buruh yang berunjuk rasa di Jakarta pada tanggal 1 Mei 2012.  Jumlah tersebut terdiri dari  buruh yang berasal dari Bekasi, Tangerang, hingga dari luar Jawa. Untuk  mengantispasi hal ini, Kapolda MetroJaya pun telah menyiagakan sebanyak 16.700 personel  gabungan dari Polri dan TNI. Inspektur Jenderal Untung S Rajab, menyatakan, “Jadi yang unjuk rasa kami amankan, masyarakat juga diamankan. Kami akan  bertindak tegas kalau ada yang rusuh”.

Terlepas dari demonstrasi kaum buruh dan pengamanan yang telah dipersiapkan oleh pihak berwajib, mungkin tidak banyak yang tahu tentang latar belakang peringatan May Day. Nah, kali ini MJEDUCATION.CO akan mengupas sedikit mengenai Apakah May Day itu? Bagaimana sejarah awal munculnya May Day?

Kilas Sejarah Hari Buruh

Pada era tahun 1800-an, geliat industri muncul di Eropa dan Amerika Serikat. Tentu saja ini menimbulkan pergeseran yang besar dari mata pencaharian masyarakat pada itu, yakni dari agraria ataupun maritim menuju era industrialisasi. Pesona industrialisasi begitu memukau pada saat itu, hingga banyak orang yang beralih pekerjaan. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik ataupun tambang. Dan memang nyata adanya, sektor industri mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Namun hal ini, yang membuat terciptanya sistem kelas. Kelas pemilik modal dan kelas pekerja (buruh). Pada realitanya, sebagai kelas pemilik modal, tentu ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal usaha yang sekecil-kecilnya. Inilah yang kemudian memprakarsai terciptanya kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan  yang hanya menguntungkan kelas pemilik modal saja. Sebaliknya, di sisi lain, hak kaum buruh pun menjadi terabaikan.

Pada masa itu, pemilik modal sangatlah ketat dalam hal kedisplinan kerja, baik dari sisi jam kerja maupun dari target produksi. Sehingga tingkat pemutusan hubungan kerja pun cukup tinggi. Di sisi pemilik modal tentu diuntungkan dengan ketersediaan pekerja yang berlimpah. Dari sisi jam kerja pun cukup memberatkan di kelas pekerja. Mereka sering kali bekerja melebihi jam kerja  normal (jam kerja normal adalah 8 jam). Selain itu, upah yang diterima tidak sebanding dengan beban dan intensitas pekerjaan yang diberikan.

Kesenjangan-kesenjangan inilah yang akhirnya memunculkan gejolak perlawanan dari kelas pekerja. Tahun 1806, tercatat sebagai tahun pertama terjadinya pemogokan kaum pekerja. Ini terjadi di Amerika Serikat. Tuntutan dari pemogokan tersebut adalah mereduksi sistem jam kerja. Pada saat itu, jam kerja yang dilakukan ada di kisaran 19 sampai 20 jam sehari.

Tahun 1872, di New Jersey, terjadi aksi pemogokan dengan pesertanya 100.000 orang. Pemogokan ini di digawangi oleh dua pekerja mesin dari Paterson, Peter McGuire dan Mattehew Maguaire. Tuntutannya adalah pengurangan jam kerja dan penyediaan jam lembur.

Parade hari buruh pertama dilakukan di New York, Amerika Serikat.  Pada tanggal 5 September 1882, sekitar 20.000 orang berparade dan membawa spanduk besar bertuliskan : “8 Jam Kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi”. Pada tahun berikutnya, aksi ini pun menyebar ke beberapa negara bagian yang ada di AS. Pada tahun 1887, Oragon, salah satu negara bagian AS, menjadikan tanggal 5 September menjadi hari libur umum. Baru pada tahun 1894, sebuah undang-undang disahkan oleh Presiden AS, Grover Cleveland, dengan menjadikan Minggu pertama di setiap bulan September sebagai hari libur umum resmi Nasional.

Kongres Buruh Internasional diadakan di Jenewa, Swiss, pada bulan September 1886.  Dalam  kongres ini, tuntutan para buruh untuk mereduksi jam kerja menjadi 8 jam sehari kembali ditegaskan. Melalui kongres ini juga , Federation of Organization Trade and Labor Union menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari perjuangan kelas pekerja dunia. Dipilihnya tanggal 1 Mei ini tidak lain adalah untuk mengenang insiden unjuk rasa yang terjadi di Chicago, AS, yang dikenal dengan “Peristiwa Kerusuhan HayMarket”. Aksi tersebut berlangsung selama empat hari (1 – 4 Mei 1886) dan pada tanggal 4 Mei, polisi menembaki para demonstrans yang menimbulkan kerusuhan. Peristiwa penembakan ini memakan ratusan korban orang tewas dan para pemimpin aksi unjuk rasa ditangkap lalu dihukum mati.  Atas dasar inilah, akhirnya muncul istilah May Day dan sejak itu tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh Internasional.

Buruh Di Indonesia

25 tahun sebelum merdeka, Indonesia pun sudah memperingati hari buruh, tepatnya di 1 Mei 1920. Namun, ketika memasuki masa kemerdekaan di era Orde baru. Tidak ada peringatan setiap tanggal 1 Mei. Setiap kegiatan massal yang dilakukan untuk memperingati May Day akan dihubungkan dengan paham komunis. Paham ini merupakan paham yang ditabukan di Indonesia. Namun di dunia Internasional, banyak juga negara non-komunis yang memperingati hari buruh ini. Runtuhnya era Orde baru membawa angin segar. Tercatat dari tahun 1999, aksi May Day, kembali diperingati oleh kaum buruh. Momentum perubahan konstilasi politik,  oleh para buruh di Indonesia dijadikan untuk menyuarakan kritikan-kritikan kepada pemerintah maupun para memilik modal.

 Kembali ke aksi buruh pada May Day, sudah sebaiknya kita menyikapi itu dengan lebih bijak. Dengan pengertian, para buruh pun ketika berunjuk rasa, melakukan long march dengan tertib. Begitu pula dengan aparatur yang bertugas menjaga ketertiban, tidak pula harus dengan tindakan represif.

Aksi buruh tidak melulu merupakan ancaman. Walau jika memang mengganggu kenyamanan umum maka pelakunya wajib ditindak. Buruh, aparat Polri dan TNI, bagaimanapun juga merupakan bagian masyarakat Indonesia. Sama-sama rakyat Indonesia.

Buruh dengan aksi Active non Violence dan Aparatur Polri dan TNI secara bersama-sama bisa menjadi Pengayom masyarakat. Yang penting adalah masing-masing pihak bisa menjalankan agendanya dengan baik serta mencapai tujuannya tanpa mengganggu ketenteraman umum. Bagaimanapun, suara buruh adalah suara rakyat, sehingga sudah seharusnya negara memberikan kesempatan seluas-luasnya agar suara mereka terdengar dan diperhatikan.

Selamat Hari Buruh Sedunia

 wikipedia.org | metro.vivanews.com

ekidoang

Author: ekidoang

Tutor di berbagai workshop bidang sains dan juga aktif dalam kegiatan edutainment.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>