Mengintip Sistem Pengelolaan Sampah di Negara Maju

Apa yang pertama kali muncul dalam benak Anda ketika mendengar kata sampah? Sebagian dari kita mungkin akan menjawab tidak berguna, kotor, bau, sarang penyakit dan lain sebagainya. Tapi jawaban itu bisa jadi berbeda bagi negara-negara berikut ini. Mengapa? Karena mereka mampu menjadikan sampah yang notabene kotor, bau, tidak berguna dan sumber penyakit menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi rakyat, bahkan bisa menghasilkan keuntungan bagi perkembangan perekonomian bangsanya. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian di bawah ini.

Jerman

Kabarnya pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan belajar proses pengolahan sampah ala Jerman. Sebenarnya bagaimana proses pengolahan sampah di sana? Di Jerman, proses pengolahan sampah tidak hanya dimulai saat masyarakat membuang sampah ke tempat sampah. Jauh sebelum itu, saat barang tersebut diproduksi, atau bisa jadi saat pabrik yang bersangkutan belum beroperasi, proses pengolahan sampah sudah harus dipikirkan dengan matang. Sebelum produsen mulai memproduksi barangnya, mereka dituntut untuk selalu mempertimbangkan aspek-aspek seperti waste avoidance, waste recovery dan environmentally compatible disposal dalam proses produksi dan pengemasan guna mengurangi jumlah buangan yang dihasilkan nantinya. Waste avoidance adalah menghindari produksi limbah, sebisa mungkin buangan yang dihasilkan dari proses produksi dan dari barang itu sendiri seperti kemasan bisa diminimalisir, misalnya dengan mengurangi jumlah lapisan kemasan atau menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Jika aspek pertama tidak memungkinkan untuk dipenuhi, setidaknya hasil buangan tersebut masih dapat didaur ulang atau diubah menjadi energi (waste recovery). Tapi jika ternyata limbah atau sampah kemasan itu masih tidak memungkinkan untuk didaur ulang, alternatif terakhir adalah boleh membuangnya ke tempat pembuangan akhir, asalkan limbah atau sampah tersebut sudah diolah terlebih dulu sehingga tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan (environmentally compatible disposal). Hal ini tidak hanya berlaku untuk limbah padat saja, tapi juga limbah cair, gas, limbah berbahaya dan radioaktif.

Mulai tahun 1991, pemerintah Jerman mengeluarkan aturan tentang pengepakan/pengemasan (verpackungsverordnung). Aturan ini menuntut para produsen untuk mengolah sendiri sampah kemasan yang sudah dibuang konsumen ke tempat sampah. Artinya tanggung jawab produsen tidak hanya berhenti pada proses produksi dan distribusi, namun berlanjut pada proses pengumpulan, pemilahan dan daur ulang sampah kemasan itu sendiri. Kemasan yang dimaksud dalam aturan tersebut adalah kemasan saat distribusi (kardus atau krat), kemasan lapis kedua (seperti karton pada produk susu bubuk dan sereal) dan kemasan utama (wadah yang bersentuhan langsung dengan produk seperti botol minuman ringan).

Berbagai kesulitan mulai dirasakan para produsen terutama yang berskala besar karena harus mengumpulkan kemasan bekas di seluruh kota bahkan di seluruh negeri. Untuk meringankan beban para produsen, akhirnya dibentuklah organisasi non-profit yang dinamakan DSD (Duales System Deutschland). DSD tidak hanya bertugas mengumpulkan kemasan saja, tapi juga membantu proses pemilahan, penanganan sampai daur ulang. Para produsen tidak perlu lagi dipusingkan dengan urusan sampah, semua sudah ditangani dengan baik. Untuk menjadi anggota DSD, para produsen cukup membayar sejumlah biaya yang meliputi biaya pengumpulan, pemilahan, penanganan dan pendaur-ulangan sampah kemasan. Biaya tersebut dapat bervariasi tergantung bahan, berat dan jumlah kemasan. Jika kemasan yang digunakan semakin kompleks dan jumlahnya banyak maka biaya yang dikeluarkan perusahaan juga semakin tinggi. Hal ini mendorong para produsen untuk mengurangi kualitas bahan kemasan, misalnya kardus atau botolnya dibuat lebih tipis, demi menghemat pengeluaran dan mempermudah proses daur ulang. Setelah menjadi anggota DSD, para produsen juga memperoleh izin untuk mencantumkan logo Der Grune Punkt atau The Green Dot pada kemasan produknya. Logo ini menjamin tanggung jawab para produsen terhadap proses daur ulang kemasan yang dihasilkan.

Selain anggota DSD, tidak diperkenankan untuk mencantumkan logo tersebut dan mereka (produsen non anggota DSD) pun harus mengumpulkan dan mendaur ulang sendiri sampah kemasannya.
Meskipun tidak ada aturan resmi yang mengharuskan warga untuk memilah sampah, tapi secara sadar diri mereka tetap melakukannya, ini tak lepas dari rasa cinta masyarakat Jerman terhadap lingkungan. Gaya hidup bersih sudah menjadi budaya masyarakat sehari-hari. Untuk itu, DSD memfasilitasi hal tersebut dengan menyediakan tempat sampah dengan kode warna yang berbeda untuk tiap-tiap jenis sampah. Misalnya untuk sampah kaca seperti botol anggur, botol jus atau botol selai, disediakan tempat sampah warna hijau, coklat dan bening disesuaikan warna botol tersebut. Waktu pengumpulan sampah juga sudah disesuaikan jadwalnya, jadi antara jenis sampah yang satu dengan yang lainnya tidak akan tercampur. Untuk sampah khusus seperti bekas kaleng cat, spiritus atau wadah bekas bahan kimia yang lain, disediakan tempat sampah khusus, biasanya terletak di luar pintu toko yang menjualnya atau bisa juga dibawa langsung ke local recycling center. Orang Jerman juga mempunyai kebiasaan selalu membawa tas sendiri ketika berbelanja di supermarket atau swalayan, sehingga bisa membantu mengurangi sampah plastik. Kalaupun lupa tidak membawa tas belanja sendiri, mereka harus membayar tas plastik yang dikeluarkan supermarket.

Swedia

Ada yang unik dari Swedia, umumnya negara akan kebingungan bagaimana mengolah sampah yang dihasilkan, negara ini malah mengimpor sampah dari negara tetangganya. Swedia kini mulai mengimpor 800 ribu ton sampah per tahun dari Norwegia. Bahkan Swedia memperoleh tambahan pendapatan karena negara pengekspor sampah harus membayar sejumlah uang untuk dapat mengirimkan sampahnya. Sampahnya pun tidak sembarangan, tidak semua sampah bisa diekspor misalnya sampah beracun dan berbahaya, abu dari proses kremasi serta yang mengandung dioksin. Anda mungkin bertanya-tanya, “sampah kok diimpor, buat apa? Di Indonesia aja bingung sampah mau dikemanakan karena semua TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sudah penuh”. Ternyata, sampah-sampah tersebut akan diubah menjadi energi (Waste to Energy atau WTE). Saat ini, program WTE sudah mampu mengolah dua juta ton sampah menjadi energi panas yang dialirkan kepada 810 ribu rumah penduduk dan energi listrik ke 250 rumah penduduk.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jumlah sampah lokal yang dihasilkan ternyata tidak mencukupi, untuk itu Swedia memerlukan sampah tambahan dari negara lain. Mengapa sampai Swedia kekurangan sampah? Swedia memiliki sistem penanganan sampah yang sangat efektif, hanya sekitar 4% saja yang dibuang ke landfill atau TPA. Sampah organik misalnya sampah dapur, dedaunan atau kotoran hewan diolah secara biologi menjadi kompos atau bisa juga menjadi biogas. Untuk kertas bekas dan plastik yang recyclable akan didaur ulang sedangkan yang sudah tidak bisa didaur ulang (non recyclable) akan dibakar di incinerator. Incinerator akan menghasilkan panas yang kemudian disalurkan melalui pipa ke wilayah perumahan dan gedung komersil. Sistem pembakaran sampah dengan incinerator ini sudah ada sejak tahun 1904, dan teknologinya terus dikembangkan sampai sekarang, supaya gas buang dari incinerator bisa berkurang. Untuk abu atau sisa galian tanah dapat digunakan sebagai campuran lapisan dalam pembuatan jalan. Sedangkan sampah yang tidak memungkinkan untuk dibakar atau didaur ulang bisa dibuang ke landfill.

Masyarakat Swedia juga gemar memilah sampah, bahkan untuk jenis sampah padat, mereka harus memilahnya ke dalam 14 jenis wadah yang berbeda. 14 jenis wadah itu terdiri dari wadah untuk kardus, koran, kertas perkantoran, plastik, makanan, metal, kantong belanja, botol kaca, tiga jenis bohlam di tiga tempat berbeda, alat elektronik dan baterai. Sampah-sampah tersebut dipisahkan menjadi 14 jenis karena masing-masing sampah membutuhkan penanganan dan pengolahan yang berbeda. Misalnya sampah makanan bisa diolah menjadi kompos, kertas bisa didaur ulang, baterai melalui serangkaian proses bisa diolah menjadi tujuh bahan kimia yang berbeda.

Pemerintah Swedia juga menetapkan beberapa kebijakan yang dinilai dapat mengurangi produksi sampah, di antaranya adalah produsen harus bertanggung jawab penuh terhadap sampah yang dihasilkannya, terutama perusahaan pengemasan, koran atau percetakan, produsen ban, mobil, alat-alat listrik dan elektronik. Para produsen ini selain hanya menghasilkan barang juga perlu memikirkan bagaimana caranya mengolah sampah yang dihasilkan dari sisa produknya dan diusahakan sebisa mungkin untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Kebijakan yang lain adalah tingginya pajak TPA (landfill tax). Hal ini bertujuan agar pembuangan sampah di TPA dapat berkurang, karena seperti yang kita ketahui, jika terlalu banyak sampah yang bertumpuk di suatu area atau lahan tertentu, akan dapat mengurangi kualitas tanah, air dan udara di daerah tersebut. Sejak tahun 1980, pemerintah Swedia juga gencar mengkampanyekan kepada masyarakat pentingnya mengurangi, memilah dan mengolah sampah yang ada, bahkan cara-cara pengolahan sampah itu sendiri juga dimasukkan dalam kurikulum sekolah, jadi tak heran jika budaya ini sudah turun-temurun dan mendarah daging.

Jepang

Setelah berjalan-jalan dan membahas pengolahan sampah di Eropa, kini kita kembali ke Asia dan mulai membahas salah satu negara di Asia yang sukses dalam mengolah sampahnya, Jepang. Pada dasarnya, sampah rumah tangga di Jepang dibagi dalam 4 jenis, yaitu:

Sampah bakar (combustible) seperti sisa makanan, kotoran dapur, minyak bekas yang sudah dibekukan (di Jepang tersedia bubuk khusus untuk membekukan minyak bekas), kertas pembungkus makanan.
Sampah tidak bakar (non-combustible) seperti sampah plastik.
Sampah daur ulang (recycle) seperti botol PET, botol kaca, kaleng makanan/minuman, karton bekas kemasan makanan.
Sampah ukuran besar seperti furnitur bekas, kasur bekas, elektronik bekas.

Sampah dipisahkan sesuai jenisnya dan dimasukkan dalam plastik khusus. Lalu sampah dikumpulkan ke tempat pengumpul sampah yang ada di luar rumah sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk kemudian diambil oleh petugas. Misalnya saja di kota Nagoya, sampah bakar akan diambil setiap hari Senin dan Kamis, hari Rabu untuk sampah plastik, sedangkan hari Jum’at untuk sampah daur ulang. Khusus untuk sampah besar seperti furnitur bekas atau alat elektronik bekas, warga harus membuat janji dengan pengelola kebersihan daerah setempat dengan membeli tiket seharga yang ditentukan. Jika kita salah jadwal dalam mengeluarkan sampah, atau sampahnya tercampur satu sama lain maka petugas tidak akan mau mengambilnya, akibatnya lingkungan akan menjadi kotor dan bau selama berhari-hari.

Setelah diambil, sampah kemudian diproses dan diolah oleh pemerintah daerah setempat. Untuk jenis sampah bakar akan dimusnahkan dengan cara dibakar dalam incinerator plant. Hasil dari pembakaran yang berupa slag dan panas akan dimanfaatkan kembali. Slag atau padatan seperti tanah nantinya akan dipakai sebagai campuran dalam cone-block untuk lapisan jalan. Sedangkan panas yang dihasilkan akan digunakan sebagai pembangkit listrik incinerator plant. Jika pada sampah terdapat cairan, maka cairan tersebut akan disuling terlebih dulu sebelum dialirkan ke sungai. Sampah plastik nantinya akan dibawa ke tempat pemilahan sampah plastik, untuk selanjutnya akan dipadatkan membentuk kotak besar. Sebagian dikirim ke pabrik sebagai campuran bahan pembuat baja, sebagian lagi dikirim ke pabrik pembuat marka jalan.

Sistem pengolahan sampah ini ternyata belum berjalan lama. Sekitar tahun 1950-an orang Jepang masih tidak peduli dengan masalah pembuangan dan pengelolaan sampah. Pemerintah juga tidak begitu peduli, karena pada saat itu Jepang baru tumbuh sebagai negara industri. Akibat pertumbuhan industri dan ketidakteraturan pembuangan limbah, muncullah berbagai kejadian pencemaran lingkungan. Kejadian yang terbesar terjadi pada sekitar akhir 1950-an yang dikenal dengan tragedi Minamata, ribuan orang meninggal akibat keracunan limbah merkuri yang dibuang ke lautan oleh pabrik Chisso Minamata. Disusul berbagai kasus polusi dan pencemaran lingkungan sekitar tahun 1960–1970-an. Barulah pada pertengahan 1970-an muncul gerakan masyarakat peduli lingkungan atau yang disebut chonaikai. Gerakan mereka menganut 3R yakni Reduce (mengurangi pembuangan sampah), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (mendaur ulang).

Mereka tidak henti-hentinya mengkampanyekan gerakan ini melalui aksi-aksi menyerukan pentingnya kepedulian lingkungan di berbagai lapisan masyarakat dan berdialog langsung dengan warga. Akhirnya gerakan mereka pun berkembang pesat dan mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Sampai puncaknya pada tahun 1997, Undang-Undang yang mengatur tentang kemasan daur ulang disetujui oleh Parlemen Jepang, dilanjutkan pada bulan Juni 2000, dengan keluarnya Undang-undang yang mengatur tentang tata cara pengelolaan sampah bagi masyarakat Jepang. Apa rahasianya mengapa budaya mengelola sampah itu masih melekat di masyarakat sampai sekarang? Tak lain adalah karena tingginya prioritas masyarakat pada program daur ulang. Semua orang paham pentingnya mengelola sampah dan itu yang diturunkan kepada generasi berikutnya. Program edukasi tentang pengelolaan sampah pun terus dilakukan secara intensif sejak dini. Anak-anak Jepang sejak kelas 3 SD (Sekolah Dasar) sudah mulai dilatih cara membuang sampah sesuai jenisnya, sehingga kebiasaan ini akan terus mengakar kuat ketika mereka tumbuh dewasa.

Dari pembahasan ketiga negara di atas, kita tahu bahwa kesuksesan mereka dalam mengolah sampah bukan hanya berasal dari satu pihak saja. Jika pemerintah hanya membuat peraturan dan kebijakan, tanpa memperoleh dukungan yang baik dari masyarakat atau pelaku industri, semuanya hanya akan menjadi sia-sia. Begitu pun bila hanya sebagian kecil masyarakat atau kelompok saja yang gencar mengkampanyekan kepedulian lingkungan, sedangkan pemerintah dan pelaku industri bersikap apatis, semuanya juga tidak akan berjalan efektif. Untuk itu, kerja sama yang baik dari pemerintah, masyarakat dan pelaku industri sangat diperlukan dan hal ini tidak bisa berjalan setengah-setengah. Lalu, kapankah negara kita akan mengikuti jejak mereka?

Author: Rika Setiana

Share This Post On

2 Comments

  1. mohon ijin utk mengcopy utk kebutuhan internal kami (motivasi). Tks

    Post a Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Membangkitkan Kultur Peduli Sampah, Solusi untuk Indonesia | SYAM OBY Personal Site - […] http://mjeducation.co/mengintip-sistem-pengelolaan-sampah-di-negara-maju/ […]
  2. KISAH SUKSES PENGOLAHAN SAMPAH | Mine Is Yours - […] http://mjeducation.co/mengintip-sistem-pengelolaan-sampah-di-negara-maju/ […]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>