Pengaruh Kegiatan Non-Akademis Terhadap Kompetensi Sosial Dan Mental Siswa

Vico adalah anak kelas XI dan bersekolah di sekolah menengah umum yang termasuk sekolah unggulan di Jakarta. Selain aktif di OSIS, dia juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di sekolahnya. Bahkan seringkali ia tidak terlalu fokus untuk memperbaiki nilai mata pelajarannya karena keaktifannya di eskul basket,terlebih Vico adalah salah satu pemain andalan yang sering mewakili sekolah dalam kejuaraan basket antar sekolah. Orangtuanya sempat memarahinya karena nilai akademisnya turun, padalah Vico adalah anak yang terbilang cerdas, sekalipun tidak menduduki peringkat 10 besar. Karena nilai akademis merosot,orangtuanya mengancam tidak memperbolehkan Vico mengikuti kegiatan basket lagi.

 Mungkin kita sering mendengar illustrasi seperti ini. Anak yang aktif di berbagai kegiatan dan bahkan bisa mencetak prestasi, tetapi karena aktivitasnya ini nilai akademisnya menjadi menurun. Lalu, pertanyaannya apakah nilai akademis adalah satu-satunya hal yang menentukan masa depan siswa?Apakah tidak ada hal lain yang bisa dijadikan faktor penunjang keberhasilan?Apa aktif di eskul sudah pasti nilai akademisnya merosot?

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang ditujukan untuk mengembangkan potensi dan bakat siswa, tentunya kegiatan itu bertujuan membentuk karakter kepemimpinan dan jiwa sosial bagi siswa. Secara tidak langsung, kegiatan ini sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa.

 Menurut penelitian yang dilakukan oleh siswa SMAN 3 Surakarta, Jawa Tengah di lingkungan mereka sendiri, 60% siswa kelas XI SBI yang menjadi responden setuju bahwa kegiatan eskul dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, 33.3% setuju kegiatan eskul terkadang meningkatkan prestasi akademis siswa, dan 6.7% tidak setuju kegiatan eskul berdampak positif bagi prestasi akademis siswa.

Siswa di SBI SMAN 3 Surakarta beranggapan bahwa dengan adanya wadah untuk berorganisasi dan mengembangkan potensi mereka bisa menjadi pribadi yang percaya diri dan menghargai dirinya sendiri. Selain itu mereka juga lebih peduli dan peka secara sosial  atau menghargai eksistensi orang lain.

Lalu bagaimana dengan kasus Vico? Tentunya tidak adil jika menimpakan kesalahan pada Vico dan aktivitas basketnya. Perlu ada komunikasi yang baik antara anak dan orangtua, anak dan guru dan orangtua dan guru untuk mengetahui apa masalah yang dihadapi si anak jika nilai akademisnya merosot. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan akademis, mungkin si anak bosan dengan cara guru menerangkan pelajaran? Mungkin tidak mendapat dukungan dari keluarga? Atau masalah dengan teman? Karena itu, perlu adanya hubungan dan komunikasi yang harmonis agar si anak bisa menikmati kegiatan belajar dan dapat mengimbangi waktu belajar dan kegiatan eskulnya.

Nilai akademis tidak dapat dipungkiri memang penting, tetapi kecerdasan akademis tidak ada artinya jika tidak ditunjang dengan kepribadian yang percaya diri, rendah hati,menghargai orang lain dan memiliki kepekaan sosial.

scribd.com

Author: jasmeena

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>