Pesona 7 Alat Musik Tradisional Dunia

“Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination and life to everything.” – Plato

Tanggal 21 Juni disepakati sebagai Hari Musik Sedunia. Pertama kali muncul di Perancis pada tahun 1982, festival musik ini kemudian dirayakan di banyak negara. Hingga saat ini, Hari Musik telah dirayakan di 110 negara di seluruh dunia, seperti Jerman, Italia, Mesir, Suriah, Maroko, Australia, Vietnam, Kongo, Kamerun, Fiji, Kolombia, Chile, Nepal, dan Jepang.

Festival ini adalah bentuk apresiasi masyarakat dunia terhadap musik yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Berbagai alat musik telah diciptakan, melintasi zaman dan era. Berikut adalah tujuh alat musik tradisional yang hingga kini masih berusaha bertahan di tengah gempuran alat musik modern.

1. Koto

Koto adalah alat musik tradisional Jepang yang memiliki dawai. Bentuknya mirip dengan alat musik zheng di China, yatga di Mongolia, gayageum di Korea, dan Đàn Tranh di Vietnam. Koto memiliki panjang sekitar 180 sentimeter (cm), dan terbuat dari kayu Kiri (Paulownia tomentosa). Alat musik ini memiliki 13 string/senar yang dirangkai lebih dari 13 jembatan bergerak sepanjang lebar instrumen. Seorang pemain koto dapat menyesuaikan suara senar dengan memindahkan jembatan ini sebelum bermain, dan menggunakan tiga jari panduan (pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah) untuk memetik senar.

2. Koauau

Dari berbagai jenis flute yang ada di Selandia Baru, mungkin koauau adalah yang paling banyak diapresiasi dan mendapat perhatian. Alat musik mungil ini dapat dibuat dari berbagai macam bahan, seperti kayu, tulang sayap elang laut, bahkan tulang manusia. Koauau adalah sejenis seruling yang ditiup lurus, dan memiliki panjang 12 sampai 15 cm dengan jarak setiap lubang antara 1 sampai 2 cm. Ketika tidak dimainkan, instrumen ini dikenakan di leher. Koauau memiliki tiga lubang untuk jari (fingerholes). Koauau adalah seruling dengan melodi yang bergetar, kadang-kadang bisa disertai dengan vokal.

3. Nyckelharpa

Nyckelharpa adalah alat musik tradisional Swedia. Penampilan nyckelharpa mirip dengan biola. Alat musik ini menggunakan senar atau yang biasa disebut chordophone. Kunci untuk mengatur suara melekat pada garis singgung ketika tombol ditekan. Tombol ini berfungsi sebagai frets untuk mengubah pitch dari senar. Nyckelharpa dimainkan di sekitar leher, kemudian distabilkan dengan lengan kanan.

4. Vuvuzela

Vuvuzela dikenal juga sebagai lepatata mambu (bahasa Tswana). Alat ini berbentuk tanduk plastik sepanjang kurang lebih 65 cm (2 kaki). Alat musik tradisional Afrika ini menghasilkan suara yang keras dan panjang. Secara tradisional, vuvuzela dibuat dan terinspirasi dari tanduk. Awalnya vuvuzela digunakan untuk memanggil orang-orang dari desa yang jauh untuk menghadiri sebuah pertemuan masyarakat. Vuvuzela populer di dunia setelah digunakan penonton saat turnamen Piala Dunia digelar di Afrika Selatan. Terdapat beragam jenis vuvuzela yang dibuat oleh beberapa produsen sehingga dapat menghasilkan berbagai intensitas dan frekuensi output. Intensitas output ini tergantung pada teknik meniup dan tekanan yang diberikan.

5. Ocarina

Instrumen ini adalah alat musik tiup yang masuk dalam kategori vessel flute atau flute kapal karena bentuknya menyerupai kapal. Konon, ocarina sudah ditemukan sejak 12.000 tahun yang lalu. Ada beberapa variasi, namun instrumen ocarina pada dasarnya berupa ruang tertutup dengan 4-12 lubang, dan memiliki sebuah corong yang menonjol. Ocarina biasanya terbuat dari tanah liat atau keramik, tapi bahan lain juga dapat digunakan, seperti plastik, kayu, kaca, logam, bahkan tulang.

6. Kundu

Kundu adalah nama yang diberikan untuk drum tangan yang terdapat di Papua Nugini. Drum kundu biasanya menggunakan kulit kadal di bagian atas dan bagian badannya terbuat dari kayu yang dilubangi. Drum Kundu bisa terdapat dalam berbagai ukuran, mulai dari yang berdiameter 30 cm hingga lebih dari 200 cm seperti yang ditemukan di sekitar Gogodala. Beberapa kundu memiliki pegangan, sementara yang lain tidak. Hal ini tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan oleh gaya memainkannya. Badan kundu biasanya dihiasi dengan ukir-ukiran khas Papua Nugini. Kualitas seni digambarkan pada badan drum biasanya akan menentukan nilai kundu tersebut.

7. Sasando

Rasanya tidak adil jika kita tidak mengupas alat musik yang berasal dari dalam negeri. Sasando berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara umum, bentuk sasando serupa dengan instrumen petik lain seperti gitar, biola, dan kecapi. Namun tanpa chord (kunci), senar sasando harus dipetik dengan dua tangan, seperti harpa. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan memainkan accord. Ini menjadi keunikan karena seorang pemain sasando dapat memainkan melodi, bas, dan accord sekaligus. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Tabung sasando diletakkan dalam sebuah wadah setengah melingkar terbuat dari daun pohon gebang (semacam lontar) yang menjadi tempat resonansi sasando. Semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando hingga kini terbuat dari bahan alami, kecuali senar dari kawat halus.

Beberapa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil alat musik tradisional yang ada di seluruh dunia. Beberapa ada yang punah, namun tak sedikit alat musik yang bertahan hingga kini. Di Hari Musik Dunia tahun ini, semoga penghargaan kita akan alat-alat musik tradisional semakin tinggi, terlebih untuk yang ada di negeri sendiri. Selamat Hari Musik Dunia!

Author: Hotnida Novitasari

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>