Sekolah Master: Orang Miskin Wajib Sekolah

 

dok.rahmat

Pendidikan adalah hak bagi semua warga negara Indonesia. Apapun jenis kelaminnya, agamanya, tidak terkecuali kaya, miskin, tua, muda. Hal ini menjadi tanggung jawab negara, sesuai dengan undang-undang dasar negara RI. Namun faktanya, masih banyak warga negara yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan tidak mengenyam pendidikan yang layak. Atas dasar inilah Sekolah Masjid Terminal berdiri, tujuannya supaya warga tak mampu, mendapatkan pendidikan yang layak.


Suara keramaian terdengar menggema di sebuah ruangan sekolah yang terletak di Jalan Arief Rahman Hakim, Depok, Jawa Barat. Jika dilihat sejenak ke ruangan kelas tersebut, tampak anak-anak yang tengah menyimak pelajaran yang diberikan gurunya. Tidak sedikit pula, anak-anak murid tersebut yang tidak menyimak pelajaran gurunya dan asyik mengobrol dengan teman di sampingnya, bahkan berteriak memanggil temannya. Suasana ramai, tak hanya ada di dalam ruang sekolah,  di luar sekolah juga tak kalah ramainya, lalu lalang kendaraan menambah kebisingan di sekitar sekolah. Suara klakson kendaraan baik mobil atau motor seakan tak mau kalah menghiasi  keramaian tersebut.

Itulah suasana yang  nampak terjadi  setiap hari di Sekolah Masjid Terminal atau  Master,  Depok. Sekolah yang didirikan Nurohim ini memang terletak di pinggir jalan raya serta berada di Terminal Depok. Maka, tak heran jika kebisingan setiap saat terdengar di sekolah ini. Sekolah  Master merupakan sekolah yang didirikan khusus untuk kaum pinggiran atau marginal. Mereka  yang mendaftar  masuk ke sekolah ini adalah anak-anak jalanan, seperti  pedagang asongan, pemulung dan  pengamen serta anak-anak dhuafa dan yatim. Setiap siswa-siswi yang masuk sekolah ini tidak dipungut bayaran sepeser pun alias gratis.

Jangan membayangkan sekolah  yang berada di bawah naungan Yasayan Insan Bina Mandiri ini seperti sekolah umum lainnya. Ruang sekolah sebagian besar terbuat dari kontainer kendaraan, tidak ada bangku, murid-murid  belajar di lantai, ada meja belajar, tapi hanya di beberapa ruang kelas. Atap sekolah terbuat dari asbes, di dalam ruangan tak  ada pendingin seperti kipas angin atau AC , sehingga bisa dibayangkan bagaimana panasnya ruangan tersebut. Namun keadaan seperti ini, tidak menyurutkan para siswa-siswi yang ingin membulatkan tekadnya untuk belajar di sekolah tersebut.

dok.rahmat

Sekolah Master berdiri di atas lahan 700 meter persegi, luas bangunannya sendiri sekitar 350 meter persegi.  Tanah ini merupakan tanah hibah dan wakaf dari  masayarakat dan donatur yang diamanahkan  ke Yayasan Bina Insan Mandiri untuk mengelolanya. Sekolah ini berdiri sekitar tahun 2000 lalu dan sudah meluluskan 3000 siswa-siswi setingkat SMA. Saat ini, ada sekitar 2600 siswa-siswi yang masih belajar di sana, sementara tenaga pengajarnya sebanyak 115 orang yang terdiri dari tenaga pengajar lepas dan tenaga pengajar tetap. Untuk honor tenaga pengajar diberikan sekitar Rp 20 sampai Rp 30 ribu per sekali datang dan diberikan setiap sebulan sekali. “Ini mungkin hanya cukup untuk biaya transportasi saja,” ujar Nurohim, Ketua Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim).

Untuk biaya operasional Sekolah Master , Yayasan Bina Insan Mandiri memiliki usaha sektor riil yang dibangun diantaranya adalah bengkel  las, percetakan dan  peternakan. Usaha inilah yang menjadi andalan sehingga biaya sekolah digratiskan. Ditambah  dana dari donatur  dan orang-orang  yang peduli menyisihkan sebagian hartanya untuk sekolah ini.

Bagaimana dengan biaya dari pemerintah ? Menurut Nurohim, dana dari pemerintah tidak bisa diharapkan lebih banyak. Jika dihitung-hitung, pemerintah hanya memberikan dana untuk dua kelas dari 50 kelas yang ada. Dan itu dalam waktu satu bulan juga sudah habis. “Kalau menunggu dana dari  negara, sampai lebaran kodok nggak bisa sekolah”, tambah Nurohim.

Ide awal Sekolah Master

Sekolah Master di bentuk sebagai sebuah keprihatinan terhadap pendidikan terutama

dok.rahmat

kaum miskin dan anak-anak jalanan. Adalah  Nurohim, yang berlaku sebagai arsitek dari berdirinya Sekolah Master. Sebagai pendiri, ia melihat banyak anak- anak  usia sekolah yang tidak sekolah dan hidup di jalanan. Padahal mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.  Selain itu, Nurohim sendiri tidak terlepas dari kehidupan anak jalanan. “Saya berangkat  dari latar belakang yang sama. Saya dulu tumbuh di pasar, saya itu korban perceraian. Ibu bapak saya berdagang di Pasar Tanah Abang, setelah mereka bercerai saya diselamatkan kakek nenek saya. Terus saya dipesantrenkan“, kenang  Nurohim.

Keprihatinannya bertambah  ketika anak-anak  jalanan yang dia temui tidak dididik, tidak diarahkan ke bangku sekolah, sehingga bisa dibayangkan masa depan anak tersebut akan terus suram.  Banyak anak miskin dan anak jalanan yang menjadi korban seks bebas, perdagangan anak, kekerasan anak dan korban eksploitasi. Itu tidak terlepas dari kurangnya pendidikan yang diberikan.

Dari pengalaman pribadinya yang  tumbuh di jalanan, Nurohim  ingin berbagi. Ia sadar bahwa pendidikan itu punya arti cukup besar, punya andil dalam masa depan anak. Bahkan pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan. Pendidikan harus dikedepankan diantara yang lainnya mulai dari lingkungan keluarga atau rumah tangga sampai tingkatan negara.

Jika di lingkungan  keluarga,  perhatian pendidikannya cukup bagus maka anak-anak  akan terlindungi dan masa depannya juga  lebih bagus.  Anak-anak adalah calon penerus generasi  bangsa, merekalah yang akan melanjutkan kepemimpinan  masa depan. Untuk itu, Nurohim bercita-cita setiap anak-anak  harus tumbuh jadi orang hebat, pendidikannya harus bagus. “ Tidak boleh pendidikan itu terputus  hanya sampai SD atau SMP”, ujarnya.  Diharapkan, kehadiran Sekolah Master  menjadi jembatan bagi anak-anak putus sekolah  untuk melanjutkan sekolahnya. “Kita ingin kehadiran Sekolah Master ini semua anak bisa sekolah, dari anak- anak sampai yang punya anak. Anak-anak yang turun ke jalan bisa  ditampung melalui pendidikan ini”, ujar Nurohim.

Sebelum  Sekolah Master berdiri,  sudah terbentuk sebuah komunitas seperti  pengajian  Taman Pendidikan Alquran (TPA), ada juga komunitas musik dan drama.  Komunitas ini beraktivitas di sekitar masjid terminal maka disebutlah sebagai Masjid Terminal.  Dari komunitas tersebut berkembang menjadi pendidikan yang sifatnya non formal. Sekarang ada pendidikan formalnya, namun ujiannya masih menumpang pada sekolah lain atau disetarakan.

Banyak cibiran bahkan cemoohan ketika Sekolah Master ini berdiri. Tidak sedikit anggapan negatif ditujukan ke sekolah ini, salah satuya adalah dicap sebagai  sekolah kumpulan preman. Namun bagi pendiri Sekolah Master ini, cibiran dan cemoohan merupakan hal biasa, sudah menjadi hukum alam.  Nurohim tetap menjalankan tekadnya. Hasilnya, sekarang sekolah ini mampu meluluskan ribuan anak. Bahkan alumni Sekolah Master banyak yang kuliah di perguruan tinggi negeri, baik dalam maupun luar negeri seperti di Afrika Selatan, Madinah dan Mesir.

Tak hanya sampai di tingkat sekolah menengah,  Sekolah Master berdiri. “Konsep kita ke depan  bagaimana Sekolah Master ini bisa membangun perguruan tinggi dan rumah sakit untuk ibu dan anak”, Jelas Nurohim. Ia juga berharap sekolah gratis ini bisa menjadi sekolah berbasis masyarakat dan dijadikan percontohan sehingga dapat diadopsi di setiap tempat.

Sebagai sebuah idealisme,  Sekolah Master merupakan awal dari sebuah pembangunan  peradaban masa depan. Sekolah ini  melakukan pengkaderan  terhadap  generasi ke depan, sehingga  negara ini bisa dipimpin oleh orang-orang  beriman, soleh, sehingga tidak ada lagi anak Indonesia di mana pun kesulitan dalam hal kebutuhan dasar seperti pendidikan.

Author: nugraha danu

Share This Post On

2 Comments

  1. Mas Danu, mohon ditulis nomor telepon Sekolah Master yang bisa kami hubungi ya. Siapa tahu ada rejeki berlebih bisa kami sampaikan kepada mereka. Terima kasih banyak.

    Post a Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Cerita di Balik Keindahan Belitong | inspirasi.me - [...] dari kisah dalam novel tersebut. Keenam lagu tersebut dinyanyikan oleh ... Memotivasi Diri SendiriBuku berjudul Laskar Pelangi Song Book …

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>