Seandainya Aku Seorang Belanda

foto: id.wikipedia.org

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”. Kutipan dari surat kabar De Expres, 1931.

Siapa yang menyangka, tulisan di atas, ditulis oleh seorang pengagas pendidikan di Indonesia. Benar, kutipan di atas merupakan karya dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Lalu siapakah beliau? Mengapa disebut sebagai maestro pendidikan di Indonesia?

Dilihat dari tingkat statusnya, Suwardi Suryaningrat, sangat tidak kekurangan dalam hal finansial. Pria ini lahir di lingkungan Keraton Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hingga untuk jenjang pendidikan pun, ia mengenyam di pendidikan kaum priyayi atau bangsawan. Untuk pendidikan dasarnya, ia menamatkan di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Lalu ia sempat melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Hindia Belanda). STOVIA, merupakan cikal bakal dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, di sini beliau tidak sampai lulus, karena didera sakit.

Seperti diketahui Suwardi, hidup, tumbuh, dan berkembang, ditengah-tengah penjajahan Belanda. Walau, sebagai orang keraton,yang tidak mendapat imbas terlalu buruk dari masa kolonial tersebut. Namun, jiwa mudanya terbakar karena kekejaman pihak penjajah terhadap rakyat jelata. Hal ini yang membuat beliau selepas dari sakitnya, memutuskan untuk menjadi wartawan, dan berjuang melalui tulisannya. Tidak sedikit surat kabar, sebagai tempat menuangkan ide-ide pembebasannya. Seperti Sodiotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia (baca: Utusan Hindia), Kaoem Moeda (baca: Kaum Muda), Tjahaja Timoer (baca: Cahaya Timur) dan Poesara (baca: Pusara). Di masa itu, Suwardi merupakan salah satu penulis handal. Ia terkenal dengan karakter tulisan yang komunikatif dan juga tajam, ditambah lagi, sangat kental dengan semangat antikolonial.

Seiring dengan karier kewartawanannya, yang kian menanjak, Suwardi pun terlibat aktif dalam Organisasi Kepemudaan pada masa itu. Sebut saja Budi Otomo, di sini ia aktif sebagai seksi propaganda. Tugasnya mengugah pemikiran rakyat Indonesia (khususnya Jawa) untuk memahami pentingnya persatuan dan kesatuan. Selain itu, Ia juga aktif di Insulinde, sebuah organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo (pribumi). Insulinde, mengedepankan pendirian negara sendiri, di luar Hindia Belanda. Lalu ketika  Ernest Douwes Dekker (DD), pimpinan surat kabar De Expres, mendirikan Indische Partij, Suwardi pun turut aktif didalamnya.

Ada satu titik “kegerahan” dari pemerintah Hindia Belanda, pada Suwardi. Ketika itu, Pemerintah ingin memperingati kemerdekaan Belanda yang diberikan oleh Perancis pada tahun 1913. Namun, untuk mengalang dananya, pemerintah meminta sumbangan dari warga termasuk para pribumi. hal ini membuat Suwardi geram, dan membuat tulisan dengan judul “Seandainya Aku Seorang Belanda” dan di muat di surat kabar De Expres. Tulisan ini, membuat Gubernur Jendral Idenburg, menangkap dan membuang Suwardi ke pulau bangka, Namun kerena keputusan itu diprotes, hukumannya berganti menjadi pengasingan di negeri Belanda (1913). Usia Suwardi saat itu baru 24 tahun. Dan ia dibuang bersama-sama dengan DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo (baca: Cipto Mangunkusumo).

Lalu, apakah Suwardi menjadi jera dengan hukuman itu? Tidak, justru sebaliknya, semangat untuk perlawanan terhadap kolonial makin tinggi. Di masa pengasingan, Suwandi banyak belajar dan terpengaruh oleh para tokoh pendidikan barat, Sebut saja  Froebel dan Montessori. Juga  dari timur, melihat pergerakan pendidikan di India, di Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh Pemikiran serta pergerakan mereka yang membuat Suwardi bercita-cita untuk memajukan pendidikan kaum pribumi. Sekembalinya dari pengasingan tahun 1919, beliau mulai pergerakan pendidikannya. Pada tanggal 3 Juli 1922, Beliau mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Dan genap pada usia ke 40 tahun, pada penanggalan jawa, Raden Mas Suwardi Suryaningrat, mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Dengan demikian, gelar kebangsawanannya pun hilang, sehingga beliau dapat lebih dekat lagi dengan kaum pribumi pada masa itu.

Perjuangannya dalam menumbuhkembangkan dunia pendidikan di Indonesia, terus berlanjut hingga ke masa kemerdekaan. Ki Hajar Dewantara merupakan Menteri pendidikan pertama (kala itu benama Menteri Pengajaran) dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Pada tanggal 26 April 1959, Ki Hajar menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta. Atas segala daya dan upaya beliau, maka Ki hajar Dewantara pun diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959, tanggal lahir dari Ki Hajar Dewantara, dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”
di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan

wikidepia | biografitokohdunia.com

ekidoang

Author: ekidoang

Tutor di berbagai workshop bidang sains dan juga aktif dalam kegiatan edutainment.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>