Sekolah Pelangi Nusantara: Pentingnya Menghargai Perbedaan

Kurangnya wacana mengenai konsep multikultural ditengarai menjadi penyebab seringnya terjadi tindak kekerasan atas nama SARA. Untuk itu, perlu kiranya menebar wacana ke tengah masyarakat perihal pentingnya sebuah toleransi terhadap perbedaan. Sekolah Pelangi Nusantara mencoba menawarkan serta menelurkan konsep multikultural di tengah masyarakat.

dok.rahmat

Keceriaan terpancar dari wajah anak-anak yang tengah mengikuti pelajaran di sebuah taman di kawasan Matraman, Jakarta Pusat.  Sementara sang guru, tak henti-hentinya melakukan bimbingan terhadap mereka. Alhasil,  rona tawa  menghiasi proses belajar mengajar tersebut. Proses belajar yang seperti inilah yang dilakukan Sekolah Pelangi Nusantara,   sekolah alternatif yang mengajarkan perbedaan terhadap anak didiknya yang diberikan  kepada anak-anak usia TK sampai sekolah dasar.

Fasilitas yang digunakan sekolah ini, sangat sederhana, semuanya serba apa adanya. Jangan membayangkan tempat untuk  belajarnya di sebuah gedung, melainkan menggunakan fasilitas taman untuk belajar. Meski begitu, tidak mengurangi keseriusan untuk mengikuti pelajaran. Padahal letak taman tersebut dikelilingi jalan raya, sehingga lalu lalang kendaraan, baik roda dua maupun roda empat setiap saat lewat. Ya! Taman Amir Hamzah merupakan taman yang biasa digunakan untuk belajar.  Taman ini, dianggap layak untuk belajar, apalagi rimbunan pohon menjadi peneduh di saat musim panas. Tiga buah spanduk bekas yang terbuat dari plastik menjadi alas para siswa dan guru  untuk duduk, tidak ada papan tulis atau white board yang biasa dipajang di depan para siswa untuk menulis.

Sekolah alternatif ini memberikan pelajaran satu kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Sabtu sore.  Jam pelajaran hanya berlangsung selama satu sampai dua jam. Saat ini ada sekitar 30 siswa yang aktif  belajar di sekolah alternatif ini. Sementara untuk tenaga pengajar berjumlah tujuh orang. Tenaga pengajar ini merupakan relawan yang tidak dibayar. Maklum, belajar di sekolah ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis kepada anak-anak. Untuk biaya operasional, sekolah ini mengandalkan pada sumbangan baik dari relawan, orang tua murid maupun dari donatur lainnya.

dok.rahmat

Sekolah ini tidak memiliki gedung atau kantor. Untuk keperluan koordinasi, para relawan yang terlibat cukup menggunakan jejaring sosial atau komunikasi lewat telepon, yang selanjutnya bisa ditindaklanjuti dengan melakukan pertemuan di suatu tempat. Bahkan rumah orang tua murid kadang dijadikan tempat untuk melakukan koordinasi.

Manfaat adanya Sekolah Pelangi Nusantara dirasakan Juniarti, warga Matraman, Jakarta Pusat yang juga orang tua murid. Baginya  perkembangan kedua  anaknya sangat pesat selama mengikuti sekolah alternatif tersebut. “Saya senang sekali dengan adanya Sekolah Pelangi Nusantara ini”, ujarnya.
Ada mata pelajaran  unik yang diberikan yaitu pelajaran Multikultural . Pelajaran ini menjadi salah satu pelajaran utama yang diberikan selain Bahasa Inggris dan Matematika.  Menurut Romadhona, salah satu pengajar, ini menjadi konsep dari Sekolah Pelangi Nusantara. Dalam pelajaran Multikultural, anak-anak diperkenalkan pada arti sebuah perbedaan, mulai dari perbedaan keyakinan, warna kulit, suku sampai golongan. Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama ras dan golongan. ” Jadi kami ingin mengembangkan pendidikan multikultural itu”, ungkap Romadhona.

Secara teknis, kurikulum yang digunakan pun berbeda dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah pada umumnya. Yaitu kurikulum yang bisa menstimulasi  anak untuk saling mengasihi dan  tidak membeda-bedakan teman.  Salah satu contoh mata pelajaran multikultural yang saat itu diberikan adalah mengenai peran jari tangan. Para pembimbing membuatkan sebuah lagu bertema jari tangan, lalu anak-anaknya diminta untuk memaknai lagu tersebut. Dalam konteks multikultural, seperti yang diketahui bahwa jari tangan memiliki ukuran dan fungsi yang berbeda, namun perbedaan tersebut tidak menjadikan sebagai persaingan  tetapi sebagai sebuah kebersamaan yang berujung pada terciptanya  perdamaian dan kenyamanan.

Konsep pelajaran multikultural ini  menjadi kritik sekaligus solusi terhadap kurikulum yang diterapkan di sekolah pada umumnya. Romadhona menilai, kurikulum di sekolah tidak menerapkan konsep multikultural, bahkan guru lebih cenderung mengajarkan pada sebuah doktrin, termasuk doktrin agama, mengajarkan perbedaan tapi tidak dalam kerangka kebersamaan.  Tidak sedikit guru agama di sekolah menebarkan sentimen terhadap agama yang lain. Meski saat ini di setiap sekolah diberikan pelajaran  pendidikan kewarganegaraan,  namun jika hanya sebagai doktrin maka tidak akan memiliki makna apa-apa. Untuk itu, diharapkan konsep dan pelajaran multikultural ini bisa diadopsi dan  diterapkan di setiap sekolah tanpa pengecualian “Saya berharap pemerintah mau mengadopsi kurikulum seperti ini, paling tidak sekola memiliki pendidikan multikultural  mulai dari TK sampai perguruan tinggi ”,  tambah Romadhona.

Toleransi terhadap perbedaan

dok.rahmat

Saat ini  kondisi bangsa Indonesia sangat memprihatinkan,  sering  terjadi  konflik dan berujung pada tindak kekerasan. Perbedaan kadang menjadi penyulut konflik kekerasan yang terjadi.  Padahal, bangsa Indonesia berdiri tidak terlepas dari perbedaan, baik perbedaan agama, suku, golongan maupun kelompok. Bila mengalami gesekan perbedaan tersebut  maka rentan akan terjadi tindak kekerasan. Masyarakat Indonesia yang heterogen ini, perlu kiranya menyadari akan perbedaan.  Dari situlah, Sekolah Pelangi Nusantara berdiri dengan mengusung konsep multikultural.

Sebagai awalan, Sekolah Pelangi Nusantara dikhususkan untuk anak-anak usia antara 4 sampai 12 tahun. Karena usia tersebut merupakan usia keemasan untuk membentuk karakter seseorang.  “ Kalau kita ajarkan sedari dini, Insya Allah nanti mereka akan  mengerti sehingga beranjak dewasa akan susah diajak ke hal-hal yang berstigma SARA seperti itu”, harap  Romadhona. Namun dalam jangka panjang tidak menutup kemungkinan konsep multikultural ini diberikan kepada anak-anak usia sekolah menengah  bahkan sampai perguruan tinggi.

Secara harfiah, kata  pelangi diambil karena pelangi terdiri dari berbagai warna dan  menjadi satu kesatuan, sedangkan  nusantara merepresentasikan Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Untuk itu secara filosofis, nama Pelangi Nusantara bisa menggambarkan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama tetapi mempunyai satu tujuan, yaitu Indonesia damai.

dok. rahmat

Dengan berdirinya sekolah alternatif  Pelangi Nusantara ini, diharapkan anak-anak ke depan memiliki kebanggaan  menjadi warga Indonesia yang multikutural. Karena beragam kultur menjadi kekayaan Bangsa Indonesia, sehingga tidak ada lagi pertentangan yang menjurus pada sebuah kekerasan fisik atas nama perbedaan.

Author: nugraha danu

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>